Friday, October 07, 2005

BENARKAH AL-QURAN ADALAH WAHYU DARI ALLAH?
bab 1

Apa benar Al-Quran itu diturunkan langsung secara utuh (sudah berbentuk buku) dari Allah kepada nabi Muhammad saw? Jawabnya: tidak. Al-Quran itu tidak diturunkan secara utuh (sudah berbentuk buku) dari Allah kepada nabi Muhammad saw. Al-Quran telah diturunkan kepada nabi Muhammad saw melalui ilham (wahyu) dari Allah lalu nabi Muhammad saw ceritakan / ucapkan itu kepada teman-temannya, barulah teman-temannya menuliskannya dan yang lain menghafalkannya. Lalu setelah nabi Muhammad saw wafat barulah dipandang perlu untuk membukukan tulisan-tulisan ilham yang telah diterima oleh nabi Muhammad saw. Untuk melestarikannya dikumpullah tulisan-tulisan yang pernah ditulis oleh teman-teman nabi Muhammad saw dan teman-teman yang telah menghafal tuturan nabi Muhammad saw itu. Setelah terkumpul tulisan-tulisan itu dan setelah mendengar akan hafalan-hafalan itu, barulah diketahui ada beberapa perbedaan tulisan dan hafalan. Maka untuk mendapatkan keaslianya, satu panitia telah dibentuk untuk memeriksa, mengseleksi atau memilih mana yang asli dan mana yang sudah berobah. Panitia ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit sebagai ketuanya. Jadi jelaslah kitab Al-Quran tidak diturunkan secarah utuh (sudah berberntuk buku) dari surga, tapi melalui proses. Yaitu dari Allah melalui ilhamNya kepada nabi Muhammad saw lalu ditulis dan dihafalkan oleh kawan-kawannya. Setelah dikumpulkan tulisan dan hafalan itu diperiksa / diseleksi mana yang benar, barulah disahkan untuk menjadi patokan asli dari kitab Al-Quran. Al-Quran yang sudah disahkan ini dinamai Al-Mushhaf dan oleh panitia ditulis lima buah buku Al-Mushhaf. Empat buah diantaranya dikirim ke Mesir, Syria, Basrah dan Kufah, agar ditempat–tempat itu disalin pula dari masing-masing Mushhaf itu dan satu buah ditinggalkan di Madinah untuk Utsman dan itulah yang dinamakan Mushhaf Al-Imam. Sesudah itu Utsman mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Quran yang ditulis sebelum itu lalu membakarnya. Maka dari Mushhaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum Muslimin di seluruh pelosok dunia menyalin Al-Quran itu. (Muqaddimah Al-Quran Departemen Agama R.I. hal.25-26).

Menelusuri proses terjadinya kitab Al-Quran seperti dipaparkan itu, apakah tidak mungkin isi Al-Quran itu ada terdapat kesalahan? Yaitu kekeliruan yang tak disengaja dari panitia yang dibentuk untuk menyeleksi (memilih-milih, memilah-milah) mana yang benar dan mana yang tidak benar. Secara akal sehat memang mungkin ada kesalahan. Tapi bagi kami yang percaya kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bisa, tentu Allah telah memberikan taufik dan hidayahNya kepada panitia tersebut sehingga pekerjaan mereka itu sempurna tidak ada salah. Kami percaya secara iman kepada Allah, tentu Allah sudah memimpin, sudah campur tangan dalam pekerjaan panitia yang mulia ini. Tidak mungkin Allah membiarkan kesalahan tersebut karena itu adalah firmanNya. Q.S. Al-Hijr (15):9 "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya".

Jadi, dari manakah pengertian keaslian Al-Quran yang katanya tidak berobah dari aslinya? Jawabnya: Pengertian tidak berobah dari aslinya adalah, tidak berobah dari hasil setelah dipilih oleh panitia penyeleksi Zaid bin Tsabit itu (Al-Mushhaf). Jadi bukan pengertian dari asli yang diturunkan oleh Allah langsung dari surga yang sudah berbentuk buku. Sehingga kalau terjadi kekeliruan dalam terjemahannya, itu harus dicocokkan / disesuaikan pada hasil yang telah dipilih / ditetapkan oleh panitia itu.

Apakah ada kesalahan dalam terjemahan / tafsiran Al-Quran? Sebenarnya tidak ada kesalahan, tapi ada yang kurang tepat terjemahannya (tafsirannya). Ini disebabkan karena perbendaharaan kata dari bahasa yang dipakai terjemahan itu tidak lengkap seperti perbendaharaan kata dibahasa Arab. Maka sipenterjemah memakai kata-kata yang mirip atau yang paling dekat dengan pengertian dalam kata Arabnya, sehingga meyebabkan kadang-kadang terjemahannya tidak tepat, tapi bukan salah. Kasus yang sama seperti inilah yang terjadi pada terjemahan ayat-ayat Alkitab.

Maka untuk mengetest akan keaslian Alkitab dan Al-Quran baiklah kita pakai standar jujur. Pakailah standart yang sama. Jangan kepada Alkitab di test pada kesalahan terjemahan dibandingkan dengan test keaslian dari text huruf Arab yang telah dipilih oleh Panitia. Yang cocok untuk disetarakan (dibandingkan) adalah Codex dengan Hasil panitia Al-Quran (Al-Mushhaf) dan Terjemahan dengan Terjemahan, barulah fair (adil) dalam mengetest Alkitab dan Al-Quran. Inilah yang kami maksudkan dengan janganlah menutup-nutupi, terbukalah apa adanya pada saat menerangkan proses terjadinya Al-Quran dan Alkitab. Janganlah membiarkan anggapan yang salah bahwa Al-Quran itu diturunkan langsung dari Allah secara utuh hingga keasliannya terjamin, sedangkan katanya Allkitab itu sudah dirobah-robah dan tidak asli lagi, karena terbuki pada terjemahannya yang tidak tepat. Sekali lagi demi kebenaran marilah kita memakai standar test yang sama. Terjemahan Alkitab dibangdingkan dengan Terjemahan Al-Quran dan Codex Alkitab dibandingkan dengan Al-Quran hasil dari panitia yang dipimpinan oleh Zaid bin Tsabit. Yang terjadi sekarang ini, sarjana-sarjana yang mengetest kebenaran Alkitab, mengetest dengan membandingkan Terjemahan Alkitab dengan Al-Quran dari hasil panitia (Al-Mushhaf). Cara ini tidak tepat (tidak adil). Janganlah berat sebelah. Terang saja, hasilnya tidak seimbang dan akan berat sebelah. Karena kalau berbicara tentang terjemahan / tafsiran Al-Quran, kami dapat buktikan ada banyak terjemahan Al-Quran yang sekarang sudah dirobah / sudah diperbaiki dari terjemahan yang lalu. Tapi kalau Al-Quran hasil panitia itu (Al-Mushhaf) tidak pernah berobah. Demikian pula Codex Alkitab tidak pernah berobah tapi terjemahannya dapat berobah.

Bukti terjemahan / tafsiran Al-Quran dapat berobah ada banyak tapi cukup kami berikan satu saja seperti dibawah ini:

Dalam buku Al-Quran terbitan bulan Juli tahun 1989 yang terjemahannya telah disahkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia, pada kitab 114 buku An Naas ayat pertama tercantum "Qul a’uuzu bi robbinnaas" diterjemahkan "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia". Dalam buku Al-Quran Al Karim cetakan tahun 1990 pada ayat yang sama diterjemahkan "Aku berlindung kepada Tuhan yang mendidik manusia". Dalam buku Al-Quran yang diterbitkan oleh Toha Putra, Semarang thn. 1989 ayat yang sama diterjemahkan "Aku berlindung kepada Tuhan Manusia". Dari ketiga terjemahan Al-Quran yang berbeda-beda ini, pertama diterjemahkan "Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia", yang kedua diterjemahkan: "Tuhan yang mendidik manusia" dan yang ketiga diterjemahkan: "Tuhan Manusia". Apakah kita langsung cepat-cepat mengatakan bahwa Al-Quran itu berobah-robah? Atau tidak asli lagi? Tentu tidak. Untuk mendapatkan kebenaran yang sebenarnya kita harus kembali kepada Al-Quran hasil panitia Zaid bin Tsabit karena itulah yang menjadi patokan kebenaran. Kalau kita kembali pada Al-Quran yang menjadi patokan tersebut, maka kita akan dapatkan kebenaran terjemahannya adalah terjemahan yang ketiga yaitu: "Tuhan Manusia". Kata "yang memelihara", "yang menguasai", "yang mendidik" itu, adalah tambahan dari sipenterjemah. Robbin=Tuhan, Naas=Manusia. Tidak ada kata lain diantara Robbin dan Naas. Jadi terjemahan yang benar adalah "Robbinnaas"="Tuhan Manusia". Tanpa ada sisipan / tambahan kata-kata yang lain diantaranya. Demikian pula terjadi pada terjemahan-terjemahan Alkitab, kadang terdapat perbedaan dalam terjemahan. Maka untuk mendapatkan kebenarannya kita harus kembali kepada Codex Alkitab yang sekarang sedang tersimpan di Musium di Inggris dan di Perpustakaan Roma Itali. Sekali lagi janganlah mengadakan test perbandingan yang tidak seimbang. Jujurlah, gunakanlah test yang seimbang. Dan jangan cepat-cepat mempersalahkan "sudah dirobah", "sudah tidak asli lagi", pada hal pendapat salah itu, disebabkan karena pengetahuan untuk mengetes firman Allah masih sangat kurang.

Saya dapat menerkah bahwa ada umat Kristiani dan umat Islam yang tidak sepenuhnya setujuh bahwa Islam dan Kristen adalah seiman meskipun telah dibuktikan bahwa firman Allah yang telah diturunkan Allah kepada nabi-nabiNya adalah sama. Ketidak setujuannya ini berdasarkan, pada kenyataan sekarang ini, ada banyak perbedaan dalam kepercayaan. Memang benar, kalau ditinjau dari kenyataan sekarang ini demikianlah adanya. Tapi janganlah terlalu cepat mengambil kesimpulan demikian. Perbedaan-perbedaan sekarang ini adalah hasil dari ulah manusia Q.S. Al Mu’minuun (23):52 "Sesunguhnya agama tauhid ini, adalah agama kamu semua , agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaKu" ayat 53 "Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka masing-masing" ayat 54 "Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu". Jadi jelaslah bahwa perbedaan itu adalah ulah manusia, maka janganlah kita mengikuti ulah manusia itu karena nanti sampai waktu tertentu Allah akan bertindak (ayat 54). Marilah kita jujur dalam menilai keadaan sekarang ini. Bukan semua orang yang mengaku Islam menjalankan ajaran Islam yang sebenarnya. Juga bukan semua orang yang mengaku Kristiani menjalankan ajaran Kristen yang sebenarnya. Maka janganlah mempersalahkan atau mengukur doktrin Islam / doktrin Kristen dengan cara kehidupan orang yang mengaku-ngaku Islam / Kristen pada hal dia tidak menjalankan syarat Islam / syarat Kristen yang tertulis dalam Al-Quran dan Alkitab. Kalau sungguh-sungguh kita menjalankan apa yang diturunkan oleh Allah dalam firmanNya tentu akan berada dalam satu iman. Karena sangat jelas Al-Quran menganjurkan agama kita semua harus mengikuti agama nabi Ibrahim. Sedangkan agama nabi Ibrahim itu adalah agama Kristiani juga.

Memang kalau kita perhatikan keadaan umat Kristiani sekarang ini, bukan semua orang Kristiani yang mengaku-ngaku mengikuti ajaran nabi Isa (Yesus) telah menjalankan apa yang Yesus ajarkan. Sudah banyak ajaran Yesus yang diselewengkan dari ajaran yang sebenarnya. Sehinga nampaknya perbedaan itu lebih besar. Maka untuk mendapatkan ajaran yang masih asli dan belum tercemar, baiklah kita dengan cermat memilih dan mencarinya dengan pertolongan Roh suci (taufik dan hidayahNya), pasti kita akan mendapatkannya. Karena itu telah dijanjikan Allah kepada umatNya yang sungguh-sungguh mau mencari kebenaran.

Setelah kita mengetahui bahwa sesungguhnya firman Allah yang diturunkan kepada nabi-nabiNya, seperti kepada nabi Musa, kepada nabi Isa dan kepada nabi Muhammad adalah sama dalam maksud dan tujuannya, dan masih dapat dipercaya akan keasliannya, maka ada pertanyaan yang perlu dijawab yaitu, Kenapa Allah membiarkan firmanNya itu harus melalui proses yang berbelit-belit agar dapat dipahami / agar dapat dipercaya oleh manusia? Bukankah lebih baik Allah menyajikan firmanNya itu secara utuh turun dari surga sehingga tanpa susah-susah mengadakan penyelidikan, sudah dengan jelas terpapar didepan mata dan langsung mudah di mengerti dan di terima apa adanya tanpa ada usaha yang berbelit-belit untuk menyelidiki dan membuktikan akan keaslian isinya". Nampaknya pertanyaan atau ajuran ini cukup baik untuk diterima, tapi sebelum kita menerimanya, perlu kita ketahui dan insyafi bahwa Allah itu adalah Allah yang Maha Bijaksana, apapun yang dibuat oleh Allah tentu lebih baik dari apa yang kita manusia dapat pikirkan atau anjurkan. Jadi sebelum kita menerima ajuran agar firmanNya itu diturunkan secara utuh agar mudah dan langsung dapat dimengerti dan diterima, lebih baik kita berhenti sejenak dan insyafilah siapa kita ini. Kita ini hanyalah makhluk ciptaaNya. Janganlah terlalu banyak mempertanyakan akan tindakan kebijaksaan Allah yang Maha Bijaksana itu. Secara akal sehat perlu kita akui bahwa firman Allah itu bukanlah filsafat manusisa yang mudah dimengerti. Kalau filsafat manusia, setinggi apapun filsafat itu, kalau kita mau pelajari kita dapat memahaminya dengan sempurna. Tapi firman Allah bukan begitu. Firman Allah sungguh ajaib. Firman Allah itu dapat dimengerti oleh orang yang tidak berpendidikan, tapi kepada para sarjana setinggi apapun titelnya dia tidak dapat mengerti sepenuhnya filsafat firman Allah itu. Lebih digalinya, lebih dalam penyelidikannya, lebih luas lagi yang dia belum ketahui. Sungguh luar biasa dan ajaib firman Allah itu. Titel sarjana memang sangat diperlukan. Jadi janganlah kita meremehkannya. Tapi bukan titel / gelar itulah yang terpenting dalam menyelidiki firman Allah, karena firman Allah itu hanya dapat dimengerti berkat pimpinan Roh Allah / Taufik dan HidayahNya. Dalam buku Selected Messages Vol. I pp 411 "No one is able to explain the Scriptures without the aid of the Holy Spirit. But when you take up the Word of God with a humble, teachable heart, the angels of God will be by your side to impress you with evidences of the truth." pp 415 "God can teach you more in one moment by His Holy Spirit than you could learn from the great men of the earth". Jadi jangalah tawar hati dalam usaha menyelidiki dan mencari kebenaran friman Allah. Kalau kita sungguh-sungguh mau mencari dan mau mengetahui akan kebenaran firman Allah itu, Allah telah berjanji akan memberikannya. Asalkan kita sungguh-sungguh datang kepadanya dalam doa permohonan kita. Pasti Allah akan memberikannya. Itulah janji Allah.

Maka dapatt disimpulankan bahwa: (1). Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Teguh. Berarti FirmanNya itu juga teguh dan tidak berobah-robah. (2). Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Bisa (maha sanggup). Berarti Allah sanggup menjaga dan memelihara FirmanNya sehingga tidak hilang dan tidak dirobah-robah. (3). Kalau ada yang mengatakan firman itu masih ada, tapi itu sudah dirobah-robah. itu berarti orang itu melecehkan dan merendahkan derajat / kemampuan Allah yang dia sembah. Dengan kata lain orang itu menyembah allah yang tidak sannggup menjaga akan firmannya. Manusia saja sanggup menyimpan arsip dokumennya. Mana mungkin Allah yang Maha Kuasa, yang Maha Bisa (maha sanggup), tidak sanggup menyimpan dan menjaga kemurnian firmanNya?

Bapak K.H. Hasyim Musadi sebagai Ketua Umum NU dalam wawancara di RCTI pada tgl. 18 September 2000, saat ditanyakan apa anjuran Bapak tentang keadaan sekarang ini? Dengan bijaksana Bapak K.H. Hasyim Musadi menjawab: "Yang penting sekarang ini adalah "kesadaran" dan "jangan menutup-nutupi", Baiklah kita sadar dan tebuka. Karena kalau tidak, Allah akan bertindak. Ingatlah tindakan Allah sangat pedih. Jangan tunggu sampai Allah bertindak". Anjuran / nasihat dari Bapak K.H. Hasyim Musadi ini dapat juga ditujukan kepada mereka yang coba-coba mau menyampaikan hasil reset / pendapatnya dengan mengatakan Firman Allah yang diturunkan kepada nabi Musa dan nabi Isa (yaitu Tourat dan Injil) itu, sudah tidak ada dan kalaupun ada itu sudah tidak asli lagi. Pernyataan mereka ini telah merendahkan derajat dan kemampuan Allah yang kita sembah Allah yang Maha Bisa (maha sanggup) melestarikan firmanNya. Jadi "sadarlah" "terbukalah" saudaraku sebelum terlambat. Insyah Allah kita akan bersatu dalam satu iman sesuai firman Allah yang diturunkan kepada nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Q.S Al Maidah (5):68 "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Quran". Q.S. An Nahl (16):123 "Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim’.

Bab II

BENARKAH ALKITAB (BIBLE) WAHYU DARI ALLAH?

Sangat banyak bahkan sungguh banyak pertanyaan yang dipertanyakan oleh pihak yang belum mempercayai Alkitab, "Apakah benar Alkitab itu wahyu dari Allah?" dan "Kalaupun Alkitab itu adalah wahyu dari Allah, apakah Alkitab yang sekarang beredar ini masih murni? Apakah masih sama dengan yang aslinya? Kenapa terdapat banyak ayat yang berbeda / kontradiksi dalam Alkitab? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat perlu untuk diselidiki dan harus mendapat jawaban yang tepat yang dapat diterima oleh akal manusia. Sudah banyak tulisan yang ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tapi karena tulisan itu memakai ayat-ayat dari Alkitab itu sendiri, sedangkan ayat Alkitab belum diterima, maka jawaban-jawaban tersebut belum memuaskan kepada sipenanya. Maka untuk itulah, tulisan ini ditulis guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tanpa menggunakan ayat Alkitab, tapi menggunakan "akal sehat" (common sense) dan "dasar kepercayaan yang sama". Kalaupun ada ayat Alkitab atau ayat Al-Quran yang dikutip, itu hanya untuk menguatkan pendapat akal sehat dan dasar kepercayaan yang sama tersebut.

Dari sekian banyak tulisan yang tidak menerima akan keaslian Alkitab adalah tulisan seorang penulis Islam terkenal bertaraf internasional dari Karachi Pakistan yang benama Ulfat ‘Azizus Samad dan telah dikaji oleh staf pegajar Magister Studi Islam Pasca Sarjana dari salah satu Universitas di Indonesia. Dalam bukunya yang bejudul Islam and Christianity di hal. 10 tertulis "Injil-Injil itu secara keseluruhan penuh dengan berbagai kontradiksi. – menunjukkkan bahwa Injil Jesus, yang kami maksud adalah Pesan yang diterima Jesus dari Tuhan Allah, belum sampai kepada kita dalam bentuknya yang asli". Dan dalam buku berjudul Menggungkap Tentang Bible, yang ditulis oleh Dr. Ahmed Deedat penulis Islam terkenal yang telah mendapatkan anugrah kehormatan dari kerajaan Arab Saudi karena tulisan-tulisannyanya yang dikagumi sehingga dia dianggap sebagai ahli Christology, menuliskan di hal.39 "Penyakit mental seperti diatas merupakan penyakit yang parah. Penulis wanita Ny. Ellen G. White dan para pengikutnya masih mampu berteriak-teriak bahwa, Sebenarnya, Bibel adalah firman Tuhan yang sempurna. Ya ia telah tercampur, tapi tetap murni. Bible bersifat manusiawi, sekaligus Ilahi". Juga penuls Islam terkenal yang lain bernama K.H. Abdullah Wasi’an dalam bukunya berjudul 100 Jawaban untuk Misionaris di hal. 164 tertulis "Setelah nabi Musa as wafat/meninggal dunia, kitab suci Taurat yang suci itu dirombak dan berubah menjadi kitab sejarah Israel. Dan kitab ini terus dipakai sampai 1500 tahun disaat Yesus lahir. Kemudian, kitab itu dipakai oleh umat Kristen sebagai kitab suci, tanpa diselidiki kebenarannya terlebih dulu". Masih banyak lagi tulisan yang senadah tersebut tapi tak perlu dikutip semuanya, nanti terlalu panjang tulisan ini.

Setelah kami mengkaji dengan saksama tulisan-tulisan senadah tersebut, kami mendapat kesimpulan akan kebenaran yang ditulis oleh Cendekiawan Prof. Dr. Nurcholish Majid dan Dr. Alwi Shihab. Bahwa kalau saja penulis-penulis senadah itu telah membaca buku kedua Cendekiawan itu, pasti mereka tidak akan berpikir sedemikian. Pada tulisan Prof. Dr. Nurcholish Majid dalam buku yang berjudul Melintas Batas Agama sangat jelas menyatakan bahwa sebelum kita menyatakan pendapat tentang agama yang lain baiklah kita menelusuri dan memasuki "lintas batas" agama tersebut agar pernyataan-pernyataan kita itu tepat. Kalau belum benar-benar melintas batas, masih menelusuri pinggir-pinggir lintas batas agama tersebut janganlah dulu memberikan pendapat. Karena akan ada kemungkinan besar pendapat kita itu salah. Nampaknya penulis-penulis senadah itu masih berada pada pingir-pinggir lintas batas. Mereka belum masuk jauh kedalam lintas batas yang dimaksud sehingga pernyataan-pernyataan mereka salah dan tidak tepat. Lebih jelas lagi tulisan Dr. Alwi Shihab dalam bukunya Islam Inklusif pada bab Titik Temu Kristen dan Islam di hal.117 tertulis "Kedua belah pihak dituntut bersama-sama mengoreksi citra dan kesan keliru yang selama ini tergambar dalam benak masing-masing mengenai pemeluk agama lain". Kesan keliru yang dimaksud tentu akan selalu ada kalau hanya melintas batas pada pingir-pingirnya saja. Kita perlu benar-bernar menerobos masuk jauh kedalam lintas batas tersebut barulah kita dapat memberikan pendapat yang tepat dan benar.

Lepas dari kritik yang tajam dari penulis Ulfat ‘Azizus Samad tersebut diatas, kami sangat hargai dan hormati akan pernyataannya di hal. 2 yang tertulis "Pada bab ini kami akan melihat sejauh mana firman-firman (Tuhan) dan wahyu-wahyu yang disampaikan kepada Yesus (nabi Isa) dan nabi Muhammad dicatat secara jujur dalam Kitab-kitab Injil dan Al-Qur’an, dan sejauh mana Kitab kitab Suci ini tetap terpelihara dari perubahan dan interpolasi dalam jenis apa pun." Yang kami maksudkan dihargai dan dihormati adalah kata-kata "secara jujur". Maka dengan etikad yang sejujur-jujurnya, tanpa memihak, dengan tidak menutup-nutupi, dengan terbuka apa adaya, marilah kita menelusuri, apakah benar ada perubahan dan interpolasi dalam firman Allah yang telah diturunkan Allah kepada umatNya.

Seperti yang kami telah ungkapkan terlebih dahulu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan / kritik-kritik tersebut lebih baik jangan dulu menggunakan ayat-ayat Alkitab yang belum diterima tapi gunakanlah "akal sehat" (common sense) dan "dasar kepercayaan yang sama". Kalaupun ada ayat yang dikutip, itu hanya untuk menguatkan pendapat akal sehat dan dasar kepercayaan yang dimakksud.

Akal sehat dan dasar kepercayaan yang sama yang terlebih dahulu kita kemukakan adalah: Kita bersama-sama mengakui Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Teguh, Allah yang Maha Bijaksana, dan Allah yang Maha Bisa (sanggup). Masih ada banyak ke-Maha-an Allah, tapi inilah yang kita akan perbincangkan. Berbicara tentang Allah yang Maha Teguh, yang tak berobah-robah, tentu secara akal sehat, kita akan berpikir bahwa tidak mungkin Allah menurunkan firmanNya kepada nabi-nabiNya dengan berbeda-beda isinya. Berdasarkan Maha Teguh Allah yang kita sembah itu, tentu firmanNya yang diturunkan kepada nabi Adam, kepada nabi Nuh, kepada nabi Ibrahim, kepada nabi Daud, dan kepada nabi-nabi yang lain termasuk kepada nabi Isa dan nabi Muhammad tentu sama, tidak berbeda meskipun diberikan dalam bahasa yang berbeda. Allah yang Maha Bijaksana itu menurunkan firmanNya kepada nabi-nabiNya dengan cara yang berbeda sesuai sikon (situasi dan kondisi) pada saat itu diturunkan agar manusia dapat mengerti sesuai perkembangan peradaban pada saat itu. Allah telah menurunkan firmanNya kepada nabi Musa dalam bahasa Ibrani, karena bahasa itulah yang lebih dipahami saat itu. Allah telah menurunkan firmanNya kepada nabi Isa (Yesus) dalam bahasa Gerika karena bahasa itulah yang lebih dipahami pada saat itu. Demikian pula Allah menurunkan firmanNya kepada nabi Muhammad saw dalam bahasa Arab karena bahasa itulah yang lebih dipahami pada saat itu. Q.S. Ibrahim (14):4 "Kami tidak mengutus seorang rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka". Q.S. Maryam (19):97 "Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Quran itu kepada orang orang yang bertakwa". Firman Allah, mekipun diturunkan dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda tapi makna isiNya, maksudNya dan tujuanNya tetap sama, tidak berbeda. Perintah Allah itu / Hukum Allah itu tidak berobah-robah karena Allah itu adalah Allah yang Maha Teguh. Q.S. Al-Fath (48):23 "Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kalai tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu", Q.S.Qaaf (50):29. "Keputusan disisiKu tidak dapat dirobah". Dari pengertian yang maha teguh ini, kita dapat mengambil kesimpulan secara akal sehat bahwa firman Allah yang disebut Taurat, Injil dan Al-Quran itu, pasti sama isinya dan tidak mungkin berbeda. Q.S. Al Baqarah (2):136 "Kami beiman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepda Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka". Yang berbeda hanyalah dalam tata bahasa karena disesuaikan sikon pada saat itu diturunkan.

Kalu benar ada terbukti terjadi perbedaan, tentu itu telah disusupi atau telah dirobah sehingga dapat kita bersama-sama katakan itu adalah palsu. Tapi jangan terlalu cepat katakan palsu. Baiklah diselidiki dulu dengan cermat. Berdasarkan akal sehat, semua firman Allah adalah sama dari dulu samai sekarang, maka perlu dipikirkan bahwa kalau terdapat (nampaknya) ada perbedaan janganlah dengan mudah mengatakan itu palsu, kita harus mempunyai positif thinking bahwa firman Allah itu adalah benar, tidak mungkin salah, tapi kita manusia yang berkekurangan inilah, yang belum mengerti sepenuhnya. Oleh karena itu kalau kita temui sesuatu yang meragukan biarlah kita berdoa dengan sungguh-sungguh mintakan petunjuk dari Allah untuk menerangkannya kepada kita. Allah telah berjanji akan memberikan penerangan itu asalkan kita sungguh-sungguh memohon kepadaNya. Jadi kesimpulan dari point pertama ini adalah secara akal sehat dan berdasarkan kepercayaan kita yang sama, kita bersama, harus menerima bahwa Firman Alah yang diturunkan kepada nabi-nabi itu adalah sama dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya karena Allah itu adalah Allah yang Maha Teguh tidak berobah-robah. (Q.S. Al-Fath (48):23, Q.S. Qaaf (50):29 , Matius 24:35).

Point yang kedua yang perlu kita kemukakan dalam menjawab pertanyaan-pertanaan yang meragukan, Apakah Alkitab itu firman Allah, adalah: Kita bersama mengakui bahwa Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang Maha Bisa (maha sanggup). Dengan berdasarkan akal sehat tentu kita menyetujui bahwa tidak mungkin Allah yang Maha Bisa (yang maha sanggup) itu, tidak sanggup menyimpan arsip (naskah asli) dari firmanNya yang diturunkanNya kepada nabi Musa dan nabi Isa. Sedangkan kita manusia ini, yang hanya ciptaanNya, yang tidak ada apa-apa dibandingkan dengan Allah, yang jauh lebih rendah kesanggupan kita dibandingkan dengan kesanggupan Allah, tapi toh kita manusia ini sanggup menyimpan dan menjaga keaslian arsip-arsip yang kita miliki. Apakah secara akal sehat, kita berani menuduh Allah yang Maha Bisa (yang maha sanggup) itu, tidak sanggup menyimpan dan menjaga / memelihara keaslian firmanNya yang telah diturunkan kepada nabi Musa dan nabi Isa? Janganlah terlalu cepat menyatakan bahwa firman Allah yang diturukan kepada nabi Musa dan nabi Isa itu sudah tidak tahu dimana rimbanya dan kalaupun itu ada, itu adalah firman yang telah dirobah dan tidak asli lagi. Sekali lagi, janganlah terlalu cepat menuduh demikian. Kalau anda mempunyai pemikiran sedemikian, bahaw tidak ada lagi yang asli atau itu sudah dirobah, secara akal sehat anda akan digolongkan pada kelompok yang merendahkan derajat dan kapasitas Allah yang Maha Teguh dan Maha Bisa. Itu berarti anda sedang menyembah allah yang tidak sanggup, allah yang tidak maha teguh dan allah yang tidak maha bisa. Apakah anda berani menurunkah derajat Allah yang kita sembah itu? Insyaflah saudara, dan bertobatlah. Janganlah kita merendahkan Allah yang kita sembah itu. Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang sanggup menyimpan dan menjaga akan keaslian firmanNya yang diturunkan kepada nabi Musa dan nabi Isa. (Manusia saja sanggup menjaga arsipnya masakan Allah tidak sanggup?).

Apa lagi kalau kita hubungkan dengan instruksi (perintah Allah) yang langsung diberikan kepada nabi Muhammad saw Q.S. Yunus (10):94 "Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepdamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu". = kitab Taurat dan Injil. Tentu tidak mungkin Allah yang Maha Bijaksana itu menginstruksikan / memerintahkan kepada nabi Muhammad saw, untuk bertanya kepada kitab sebelum kamu yaitu kitab Taurat dan Injil, pada hal kitab tersebut sudah hilang, sudah tidak ada ataupun sudah dipalsukan. Allah yang Maha Bijaksana, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu itu, tentu mengetahui dengan pasti bahwa kitab yang dianjurkannya kepada nabi Muhammad saw sebagai patokan firmanNya itu masih ada. Tentu Allah yang Maha Bijaksana itu tidak sembarangan menyuruh bertanya / berpatokan kepada kitab yang sudah tidak ada, yang sudah hilang atau yang sudah dirobah. Penting untuk diketahui bahwa patokan apakah kita sudah bertakwa atau belum, sesuai firman Allah adalah kalau kita telah terapkan ajaran Taurat, Injil dan Alquran. Q.S Al Maaidah (5):68 "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Quran". Bayangkan kita tidak dipandang beragama sedikitpun oleh Allah swt kalau kita tidak memahami dan menjalankan ajaran kitab Taurat, Injil dan Al-Quran. Apa mungkin kitab yang menjadi potokan "beragama" itu tidak dijaga oleh Allah sehingga itu sudah hilang atau sudah dirobah? Lebih tegas lagi, instruksi Allah untuk mengikuti kitab Taurat dan Injil sebagai patokan tersebut bukan hanya khusus diberikan kepada nabi Muhammad saw tapi sangat jelas instruksi yang sama ditujukan pula kepada para pengikut nabi Muhammad saw. Q.S. An Nahl (16):43 "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". Perlu juga diketahui bahwa kita umat manusia sekarang ini ditutut oleh Allah untuk mengikuati agama nabi Ibrahim. Q.S. An Nahl (16):123 "Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif". Perintah ini adalah instruksi langsung dari Allah. Sedangkan kita tahu bahwa agama nabi Ibrahim itu adalah menjalankan ajaran kitab Taurat. Secara akal sehat, mana mungkin Allah yang Maha Bijaksana menyuruh kita mengikuti ajaran kitab Taurat kalau kitab Taurat itu sudah tidak terjaga keasliannya. Banyak sarjana telah membuktikan (kata dia) bahwa Alkitab sekarang sudah tidak asli lagi. Baik, untuk tidak dulu mempersoalkan penyelidikannya itu, biarlah kita terima untuk sementara, tapi tolong tanyakan kepada si sarjana itu."Kalau anda katakan ini bukan asli, maka tunjukan sekarang mana yang asli dan mana yang palsu. Supaya kita dapat melihat dan dapat membedakan dengan jelas didepan mata kita mana yang asli dan mana yang palsu". Tidaklah adil mengatakan palsu kalau tidak ada bahan perbandingan dengan yang asli. Kalau sarjana itu tidak dapat menunjukkan mana yang asli tentu bukti penyelidikannya yang membuktikan ada yang palsu perlu dipertanyakan apa benar penyelidikannya itu, tanpa menunjukkan mana yang asli.

Kesimpulan dari akal sehat dan dasar kepercayaan bersama diatas itu dapat kita simpulkan bahwa: Pasti kitab Taurat dan Injil itu masih ada sampai sekarang ini dan akan ada seterusnya karena Allah yang Maha Teguh, Maha Bijaksana, dan Maha Bisa, (maha sanggup), tentu sangup menyimpan dan menjaga akan keaslian firmanNya itu. Dan kalau ada sarjana yang katanya telah membuktikan sudah tidak ada lagi arsip firman Allah yang diturunkan kepada nabi Musa dan nabi Isa itu, (yaitu kitab Taurat dan Injil), maka kita dapat berkesimpulan bahwa sarjana itu telah merendahkan dan melecehan akan kesanggupan dan keagungan Allah yang disembahnya itu.

Dengan pemikiran yang positif secara akal sehat dan berdasarkan kepercayaan bersama, bahwa Allah tentu sanggup menjaga akan keaslian firmanNya, maka barulah tepat kita memasuki penyelidikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meragukan akan isi Alkitab tersebut. Dengan kata lain sebelum kita memasuki penyelidikan Alkitab pikiran kita telah terbentuk lebih dahulu, bahwa kitab Taurat dan Injil itu masih ada dan tidak tercemar. Jadi penyelidikan kita itu akan menuju pada pembuktian akan keaslian Alkitab bukan menuju pada pembuktian akan kepalsuan Alkitab. Karena kalau penyelidikan kita itu menuju pada pembuktian kepalsuan, itu berarti kita menuju pada pertentangan dengan Allah yang Maha Teguh, Maha Bijaksana dan Maha Sanggup yang sanggup menjaga kemurnian firmanNya.

Setelah kita mempunyai pemikiran yang positif bahwa Allah sanggup menjaga akan keaslian firmanNya, kita perlu juga masukan dalam pikiran kita bahwa sesungguhnya firman Allah itu adalah sama dan tidak berubah dari dulu sekarang sampai selama-lamanya. Meskipun itu diturunkan kepada nabi-nabi yang berbeda zamannya. Dengan kata lain isi Alkitab yang asli yang masih ada itu, tidak berbeda dengan isi Al-Quran karena kedua-duanya adalah berasal dari Allah. Maka jelaslah wahyu yang diturunkan Allah kepada nabi Musa dan kepada nabi Isa adalah sama dengan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Sehingga dapat disimpulkan, sesungguhnya isi kitab Taurat, isi kitab Injil dan isi Al-Quran adalah sama, tidak bertentangan. Q.S. Al-Ankabuut (29):46 "Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu dan kami hanya kepadaNya berserah diri". Q.S. Al-Mu’minuun (23):52 "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama yang satu, dan Aku ada Tuhanmu maka bertakwalah kepadaKu". Kenapa sekarang ini agama Kristen dan agama Islam nampaknya sangat berbeda / bertentangan? Jawabnya ada pada ayat 53, itu adalah ulah manusia "Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan". Tentu tidaklah seharusnya kita mengikuti ulah manusia itu karena pada ayat 54 jelas menyatakan tindakan memecah belah agama itu adalah sesat "Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu".

Dengan pemikiran yang positif tersebut diatas, maka marilah kita menjawab akan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan kebenaran Alkitab itu, yang antara lain pertanyaan-pertanyaan itu adalah seperti berikut ini:

Bagaimana dengan perbedaan jumlah air dalam Alkitab? Bukankah ini dapat menjadi bukti Alkitab itu sudah dirobah-robah? I Raja-Raja 7:26 tertulis 2000 bat air tapi di II Tawarih 4:5 tertulis 3000 bat air, mana yang benar 2000 atau 3000? Jawabnya kedua-duanya benar karena penulis angka 2000 itu ditujukan pada jumlah air yang terisi sedangkan penulis angka 3000 itu ditujukan pada kapasitas jumlah air yang dapat tertampung.

Bagaimana dengan perbedaan jumlah pasukan yang berbeda dalam Alkitab? Bukankah ini dapat menjadi bukti Alkitab itu sudah dirobah-robah? II Samuel 10:18 tertulis 40.000 pasukan berkuda, sedangkan di I Tawarih 19:18 tertulis 40.000 pasukan jalan kaki. Mana yang benar pasukan berkuda atau pasukan jalan kaki? Jawabnya kedua-duanya benar. Menurut sejarah peperangan itu memang banyak sekali yang korban. Ada 80.000 korban. Penulis buku Samuel ditujukan kepada jumlah pasukan berkuda, sedangkan penulis buku Tawarih ditujukan kepada pasukan jalan kaki.

Bagaimana dengan perbedaan nama pelaku dalam Alkitab? Bukankah ini dapat menjadi bukti Alkitab itu sudah dirobah-robah? I Tawarih 21:1 tertulis Iblis, tapi di II Samuel 24:1 tertulis Tuhan. Sebenarnya mana yang benar Iblis atau Tuhan?. Memang kalau dibaca sepintas akan membinggungkan. Tapi kalau dibaca dengan teliti, tidak akan membinggungkan. Karena kedua-duanya benar. Penulis buku Tawarih ditujukan kepada tindakan Iblis. Sedangkan penulis buku Samuel ditujukan kepada reaksi Tuhan. Jelasnya karena Tuhan murka maka Iblis ambil kesempatan bertindak.

Bagaimana dengan perbedaan nama tempat dalam Alkitab? Bukankah ini dapat menjadi bukti Alkitab itu sudah dirobah-robah? Matius 8:28 tertulis lokasinya Gadara, tapi di Markus 5:1 tertulis Gerasa. Sebenarnya mana yang benar Gadara atau Gerasa?. Jawabnya: Kedua-duanya benar. Penulis buku Matius ditujukan kepada nama desanya Gadara, sedangkan penulis buku Makus ditujukan kepada nama kabupatennya Gerasa. Justru dengan menuliskan kedua nama tersebut. Tempat peristiwa itu menjadi lebih jelas, karena diketahui desanya dan kabupatennya.

Ada banyak sekali kritik-kritik seperti diatas, yang sudah dikemukakan, oleh para sarjana yang katanya sebagai bukti Alkitab itu sudah dirobah-robah dan tidak asli lagi. Tetapi kami pikir tidak perlu semuanya kami tuliskan disini karena akan terlalu panjang tulisan ini. Kalau anda mau mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan serupa, anda akan puas kalau anda membaca buku SDA Commentary, khususnya pada Vol.5 hal.134-189 yang berjudul Lower and Higher Biblical Criticism. Semua jawaban atas kritik-kritik yang diajukan oleh para sarjana yang meragukan Alkitab, sudah terjawab dalam tulisan tersebut. Betapa sering kita dapatkan bahwa hasil penyelidikan sarjana dikoreksi / terbantah oleh sarjana yang lain. Jadi pendapat sarjana bukanlah sudah menjadi patokan mati / tak dapat digugat. Dalam buku SDA Commentary Vol.5 hal.175 tertulis "They have been repeated and tought so many time and in so many books that most scholars seem to have forgotten that they are still hypotheses and not established facts."

Kalaupun sekarang terbukti semua kritik kepada Alkitab sudah terjawab, bagaimana dengan ayat-ayat Al-Quran yang nampaknya sangat bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab? Memang benar ada banyak ayat Al-Quran yang nampaknya (sekali lagi yang nammpaknya) sangat bertentangan dengan ayat Alkitab, tapi sesungguhnya kalau kita kaji dengan saksama ayat-ayat tersebut, ayat-ayat (firman Allah) itu, tidak bertentangan. Butinya adalah sebagai berikut:

Bagaimana dengan makanan haram? Bukankah penganut Kristiani ada yang makan babi, anjing, tikus dan binatang yang menjijikan? Sedangkan ayat Al-Quran sangat melarang memakannya, itu adalah haram untuk dimakan. Sesungguhnya kalau seorang mengaku dia adalah umat Kristiani sesuai Alkitab (Bible) dia tidak akan memakan makanan-makanan haram tersebut. Karena sangat jelas dalam Alkitab tertulis barang siapa yang memakan makanan haram tersebut akan dibakar dineraka. Dalam buku Alkitab Yesaya 66:15 "Tuhan akan datang dengan api, - untuk melampiaskan murkaNya dengan kepanasan dan hardikNya dengan nyala api", kepada (ayat 17) "yang memakan daging babi dan binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman Tuhan". Ada penganut Kristiani yang mengatakan ayat Yesaya tersebut tidak berlaku lagi. (Itu adalah katanya, kata dia). Masakan ada ayat Alkitab yang tidak berlaku lagi? Ada yang mengatakan peraturan halal dan haram itu adalah untuk orang Yahudi. Alasan itupun tidak benar. Apakah zaman Nabi Nuh sudah ada orang Yahudi? Baca buku Kejadian 7:2, sejak zaman Nabi Nuh, Allah telah tentukan makanan haram dan halal. Jadi peraturan makanan haram dan halal ini bukan hanya untuk orang Yahudi. Larangan ini adalah untuk semua bangsa sejak Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Isa dan ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad saw. Ada beberapa ayat Alkitab yang digunakan oleh sekelompok umat Kristiani yang menyatakan bahwa larangan tentang makanan haram itu sudah dihapus, dengan alasan yang masuk tidak apa-apa tapi yang keluar dari mulut, ada pula dengan alasan tidak perlu dipersoalkan lagi, karena surga bukan persoalan makanan. Semua alasan mereka itu, kalau diteliti dengan saksama, konteks ayat yang mereka pakai itu bukanlah dalam konteks mengenai makanan tapi mengenai pikiran dan perilaku. Jadi janganlah menggukan ayat dalam konteks yang tidak tepat. Ingat semua ayat Alkitab tidak bertolak belakang. Semuanya saling menunjang satu dengan yang lain dan tetap berlaku yaitu, barang siapa yang makan makanan haram akan dibakar dineraka (Yesaya 66:15-17). Jadi sesungguhnya Muslem dan Kristiani sama-sama menolak makanan haram.

Ada yang bertanya bagaimana dengan ayat Q.S. Al Maaidah (5):72 yang menyatakan "kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih Putra Maryam". Juga bagaimana dengan Q.S. Maryam (19):30 yang menyatakan Isa Al Masih itu adalah hamba Allah? Bukankah ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa Isa Al Masih itu bukan Allah? Jawabnya: ayat-ayat Al Quran itu benar, sekali lagi itu benar, ayat-ayat itu tidak salah. Karena ayat-ayat itu ditujukan kepada Nabi Isa pada saat sedang berada didunia. Untuk menerangakan lebih jelas, sebenarnya mudah asalkan kita telah mengikuti akan satu ilmu pengetahuan yang disebut Christologi. Tapi sekedar keterangan ringkas dapat kami berikan inti Christologi tersebut. Menurut Christologi, penyelidikan mengenai Isa Al-Masih itu, harus diperhatikan akan waktu keberadaanNya. Yaitu: (1) Pada waktu sebelum menjelma Dia berada disurga. (2) Pada waktu sedang menjelma Dia berada di dunia. (3) Pada waktu sesudah menjelma, Dia kembali kesurga. Pada waktu sebelum menjelma Dia adalah Allah Kalimatuhu Q.S. An Nisaa (4):171. Q.S. Ali-Imran (3):39 (Kalimat yang datang dari Allah). Pada waktu sedang menjelma Dia adalah manusia 100% Q.S Maryam (19):17. Pada saat sesudah menjelmah Dia kembali ke surga dan menjadi yang terkemuka (tertinggi) disurga. Siapa lagi yang terkemuka / tertinggi diakhirat kalau bukan Allah, Q.S. Ali Imran (3):45.

Sekali lagi ditegaskan ayat Q.S. Al Maaidah (5):72 yang menyatakan "kafirlah orang-orang yang berkata ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih Putra Maryam", dan Q.S. Maryam (19):30 yang menyatakan Isa Al-Masih itu adalah hamba Allah, adalah benar, ayat-ayat itu tidak salah, karena ayat-ayat itu ditujukan kepadaNya saat Dia (Yesus) masih berada didunia sedang menjelma menjadi manusia 100%. Juga memang benar saat Dia sedang berada di dunia, Dia sedang menjalankan tugas tertentu sebagai hamba / utusan Allah. Tapi kita perlu tahu siapakah Dia sebelum dan sesudah menjelma. Dia adalah Allah Kalimatuhu dan Rohuloh Q.S. An Nisaa (4):171, Q.S. Ali-Imran (3):39,45.

Keterangan diatas ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penulis terkenal Dr. Ahmad Deedat , Dr. Mameh M. Al-Johani, K.H. Baharudin Mudhazy dan penulis-penulis yang lain, yang menyatakan: Nabi Isa Al- Masih bukan Allah karena kalau Dia adalah Allah masak dia merasa lapar, susah, sedih, ngantuk dan selalu berserah kepada Allah / selalu berdoa minta tolong kepada Allah. Masak Allah berdoa kepada Allah? Jawabnya adalah sama dengan jawaban diatas karena saat itu, Dia sedang menjadi manusia 100%. Tapi sebelum dan sesudah menjelma Dia tidak lagi seperti itu. Dan perlu diketahui, (penting untuk diketahui) pada saat menjadi manusia didunia ini, Dia sedang menghidupkan (menjalankan) satu kehidupan sebagai contoh kepada kita umat manusia. Yang membuktikan bahwa Dia sanggup melawan pencobaan, sanggup tidak berdosa (Q.S. Maryam (19):19 "seorang anak laki-laki yang suci") meskipun Dia berada dalam keadaan manusia yang lemah seperti kita. Rahasianya adalah Dia selalu berserah / berdoa memohonkan pertolongan kepada Allah swt. Dengan contoh kehidupanNya yang berhasil ini, kita sebagai manusia tidak dapat berdalih "tidak sanggup menjadi baik". Karena Dia sudah memberikan contoh dalam kehidupan manusia yang sesederhana bagaimanapun, kalau kita mau memohonkan pertolongan kepada Allah pasti kita akan berhasil.

Ada pula yang bertanya bagaimana dengan ayat Q.S. Al-Maaidah (5):73 yang menyatakan: "kafirlah orang-orang yang menyatakan bahwasana Allah salah satu dari yang tiga". Sekali lagi kami tegaskan ayat Al Quran ini benar, tidak salah. Ayat ini sesuai dengan ayat Alkitab, karena tidak ada satupun ayat dalam Alkitab yang menyatakan Allah itu tiga. Ayat Alkitab Ulangan 6:4 "Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa", Markus 12:29 "Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa". Mazmur (Zabur) 83:19 "Supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama Tuhan, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi". Panggilan Allah Bapa dan Allah anak itu hanyalah istilah panggilan bukan dalam konteks silsilah keturunan (biologis).

Ada juga yang bertanya, bagaimana dengan Q.S. An-Nisaa (4):171, keterangan K.H. bahwa kata "kalimatNya" huruf pertama k ditulis dengan huruf kecil, yang berarti "hawadits" (bukan kalimat Allah). Jawabnya: Kenapa perhatikan huruf pertama k, perhatikanlah huruf akhir Nya ditulis dalam huruf besar. Bukankah itu membuktikan Nya artinya milik Allah? Yang dalam bahasa Arab "Kalam Qodim". Q.S. Ali-Imran (3):39 sangat jelas kalimat itu datang dari Allah "Yahya, membenarkan kalimat yang datang dari Allah". Mana yang benar keterangan K.H. atau keterangan dari ayat Al-Quran? Tentu keterangan dari Al-Quran.

Mengenai pertanyaan tentang Q.S. Maryam (19):33, bahwa sesuai keterangan K.H. yang ahli bahasa Arab menyatakan ayat itu adalah "future tense". Karena itu future tense, maka K.H. tersebut dapat membuktikan Nabi Isa belum mati, itu berarti akan mati dan sampai sekarang belum mati karena sudah diangkat Allah. Jawabnya: Memang benar kata asli bahasa Arabnya adalah future tense. Tapi tolong perhatikan kapan itu diucapkan. Itu diucapkan pada konteks saat Nabi Isa dilahirkan, jadi kematiannya memang masih akan datang (future tense). Tapi setelah tahun 31 AD (SM), ayat itu sudah "perfect tense". Karena sudah berlaku. Buktinya Q.S. An Nisaa (4):158 "Allah telah mengangkat ‘Isa kepadaNya." Kata "telah" berarti sudah berlaku = sudah perfect tense bukan lagi future tense seperti yang dipikirkan oleh K.H. tersebut. Menurut ayat Al Quran tersebut, peristiwanya ada urutannya, sebelum diangkat dibangkitkan dulu, sebelum dibangkitkan mati dulu, sebelum mati lahir dulu. (Q.S. Maryam (19):33 urutannya: lahir, meninggal, dibangkitkan lalu diangkat kesurga (4):158). Jadi kata "Allah telah mengangkat" berarti sudah dibangkitkan dulu dan sudah mati dulu. Yang berarti Nabi Isa sudah perna mati, bukan belum perna mati. Untuk menerangkan ayat Al Quran harus dibandingkan dengan ayat Al Quran yang lain. Jangan hanya pakai satu ayat langsung ambil keputusan.

Bagaimana dengan tulisan dari seorang penulis Islam terkenal yang bertaraf internasional dari Karachi Pakistan yang telah dikaji staf pengajar Magister Studi Islam Pasca Sarjana dari salah satu universitas di Indonesia, yang menyatakan bahwa: "Kematian Nabi Isa (Yesus yang tak berdosa itu), untuk menjadi penebusan dosa manusia adalah merupakan tindakan yang tidak adil". Lengkapnya kami kutip langsung dari buku ‘ISLAM dan KRISTEN Dalam Perspektif Ilmu Perbandingan Agama’ pada hal. 67-68 "Dogma ini tidak hanya mengingkari kemahamurahan Allah tetapi juga kemahaadil-Nya. Tuntutan tebusan darah untuk mengampuni dosa-dosa manusia itu menunjukkkan sama sekali tidak adanya kemahamurahan itu, dan menghukum manusia (Jesus) yang tidak bersalah karena dosa-dosa orang lain, baik atas kehendaknya sendiri maupun tidak, merupakan tindakan yang sama sekali tidak adil". Jawaban untuk pernyataan ini adalah: Memang kalau dipikir secara singkat tanpa mengetahui akan ilmu Christologi yang sesungguhnya, tentu akan berpendapat demikian. Karena tentu tidak adil, dosa orang lain ditanggung oleh orang lain. Apa lagi yang mati itu sebenarnya tidak mau (tidak rela) untuk mati, buktinya dalam doanya kepada Allah, dia memohon kalau boleh janganlah dia mati. Sesungguhnya pernyataan ini muncul karena penulis belum mengerti benar akan ilmu Christologi. Kalau sudah mendalami akan ilmu Christologi, tentu pernyataan ini tidak akan muncul. Justru dengan pendapat penulis demikian, penulis menyudutkan dirinya sendiri dalam pemahamannya tentang Allah yang dia sembah sekarang ini. Buktinya: Untuk mengampuni orang yang telah berdosa, apakah Allah harus merobah hukumNya? Q.S. Qaaf (50):29a "Keputusan disisiku tidak dapat dirobah". Allah yang kita sembah sekarang ini bukanlah Allah yang plin-plan yang dengan seenaknya dapat merobah akan hukum yang telah dibuatNya seperti yang diangap penulis tersebut. Allah yang kita sembah ini juga tidak mau menggunakan hak prerogatifnya untuk merobah hukumNya. Allah yang kita sembah sekarang ini bertindak, dengan tidak merobah hukumNya, Dia sanggup melaksanakan Q.S.Qaaf (50):29b "Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu" dengan jalan harus ada yang memikul / menanggung kesalahan dari pelanggar hukumNya itu. Tentu tidaklah adil kalau Allah menunjuk / memerintahkan salah satu dari malaikat atau salah satu dari manusia ataupun salah satu dari ciptaanya yang lain untuk menjadi qurban penebus pelanggaran hukumNya itu. Jadi untuk tidak menunjuk makluk yang lain, dan untuk tidak merobah akan hukumNya, dan sekaligus menunjukan kemahakasihNya (rahmaniir rahiim-Nya), maka Allah sendiri rela memikul, rela mati, rela menjadi penebus pelanggaran hukum tersebut. Kamus Agama Islam hal. 25 menyatakan arti kata Rahmaniir Rahiim adalah "Ia memikul beban-bebanmu kesuatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya". (Q.S. An-Nisaa (4):85 "memikul beban dosa"). Tapi bukankah Allah tidak dapat mati? Maka untuk Allah dapat mati, Allah telah rela menjelma, telah rela merendahkan diriNya (Q.S. An-Nisaa (4):172 "Al-Masih Isa sekali-kali tidak enggan menjadi hamba"), menjadi manusia agar dapat mati. Apakah Allah bisa jadi manusia? Apakah mungkin Allah jadi manusia (Robbinnaas)? Bisa dan mungkin. Q.S. An Naas (114):1,3."Robbinnaas"=Tuhan Manusia, "Malikinnaas"=Raja Manusia, "Ilaahinnaas"=Tuhan Manusia. Q.S. Maryam (19):21a "Hal itu adalah MUDAH bagiKu". Melalui rahim Siti Maryam, Allah telah menjelmah menjadi manusia. Maryam telah mengandung tanpa hubungan dengan lelaki. Kandungan Maryam itu adalah Roh Allah (Rohulloh) Q.S. At-Tahrim (66):12 "Kami tiupan kedalam rahimnya sebagian dari roh Kami". Rohulloh (Roh Allah) yang telah menjadi Nabi Isa dan telah rela mati untuk memikul beban-beban manusia yang tidak sanggup manusia pikul. Kematian itu adalah bukti TANDA rahmat Allah kepada umatNya Q.S. Maryam (19):21b "Kami jadikannya suatu TANDA bagi manusia dan sebagai RAHMAT dari Kami". (tanda rahmat = Rahmaniir Rahiim Allah swt). Dalam buku Yohanes 15:13 "Tiada ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Jadi yang mati itu bukanlah manusia biasa, tapi Dia adalah Allah (Roh Allah) yang telah menjelma menjadi manusia untuk memikul / menebus dosa umat manusia. Allah rela melakukannya, dari pada harus merubah hukumNya yang teguh itu. Allah tidak mau dituduh Allah yang plin plan (robah-robah hukum) dan Allah tidak mau dituduh menggunakan hak prerogatifNya "Mentang-mentang berkuasa jadi seenaknya robah-robah hukumNya". Dengan kata lain Allah yang kita sembah sekarang ini adalah Allah yang Maha Teguh dan untuk membuktikan akan Rahmaanir RahiimNya kepada umatNya, Dia rela memikul beban dosa kita yang kita tidak sanggup pikul asalkan kita menerima penjelmaanNya dan percaya akan kematiaNya adalah untuk menebus dosa kita. Q.S. An-Nisaa (4):156 "Dan karena kekafiran mereka terhadap Isa", Allah telah menghukum mereka. Inilah sebagian dari ilmu Christologi yang dimaksud. Dengan mengerti akan ilmu Christologi yang benar, itu akan membuka pikiran kita bahwa kematian Yesus itu bukan tidak adil seperti yang telah ditulis oleh Ulfat ‘Azizus Samad seorang penulis Islam terkenal yang bertaraf internasional dari Karachi Pakistan yang telah dikaji staf pengajar Magister Studi Islam Pasca Sarjana dari salah satu universitas di Indonesia itu, tapi justru adalah tindakan yang seadil-adilnya. Muqaddimah buku Al Quran hal. 95 "Dikehendakinya sifat suka memberi ma’af, tapi sebaliknya dikehendaki pula supaya kejahatan dihukum dengan hukum yang setimpal". Allah tidak rela menghukum umatnya dengan hukuman yang setimpal (Q.S.Qaaf (50):29b "Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu" jadi Allah sendirilah yang rela menerima / menanggung yang setimpal agar umatnya tidak dianiaya / tidak dihukum dengan hukumNya yang tak dapat dirobah itu. Sungguh Allah yang kita sembah itu adalah maha kasih (rahmaniir rahiim), yang rela menderita demi umatNya.

Di buku ‘ISLAM dan KRISTEN Dalam Perspektif Ilmu Perbandingan Agama’ pada hal. 63-64 yang ditulis oleh Ulfat ‘Azizus Samad penulis Islam terkenal yang bertaraf internasional dari Karachi Pakistan yang telah dikaji staf pengajar Magister Studi Islam Pasca Sarjana dari salah satu universitas di Indonesia, menyatakan bahwa: "Neraka merupakan semacam rumah sakit, penyembuan melalui api yang menyakitkan dan menimbulkan kepedihan". Apa benar Allah yang maha kasih itu harus menyiksa sekejam itu kepada umatnya sebelum dimasukkan ke surga? Apa sekejam itu Allah yang kita sembah? Apa tidak lebih baik barang siapa yang telah insyaf dan bertobat, langsung saja diampuni dosa-dosanya tanpa dihukum dalam neraka karena sudah ada yang memikul / menanggung / menebus dosanya itu. Sepengetahuan saya tidak ada ayat dalam Al Quran yang menyatakan bahwa neraka itu adalah rumah sakit. Yang ada, adalah semua yang masuk dalam neraka tidak akan keluar dari neraka, karena mereka akan kekal didalam neraka, mereka akan mati, mereka akan dimusnakan dalam neraka dan tidak ada kesempatan lagi untuk keluar dari naraka, neraka itu bukan rumah sakit. Ayat-ayat Al Quran tersebut adalah Q.S. Al Kahfi (18):52-53, Al Ahzab (33):64-65, Az Zukhruf (43):77, Al Balad (90):20, Al Bayyinah (98):6. Akibat fatal kalau kita terima tulisan Ulfat ‘Azizus Samad bahwa neraka itu adalah rumah sakit, dan itu adalah tempat penyiksaan sebelum masuk surga, akan menyebabkan orang-orang yang telah lolos dari penyiksaan neraka akan merasa berhak mendapatkan surga, sebab mereka telah melalui siksaan. Sehingga surga bukan lagi menjadi pemberian Allah tapi adalah hak setiap makluk. Sedangkan dalam Al-Quran surga itu bukan hak seseorang. Surga itu adalah pemberian cuma-cuma dari Allah yang maha kasih. Dan bukan juga hasil dari amal. Amal adalah tanda terima kasih kita kepada Allah Q.S. Asy-Syuura (42):23 "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanKu kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Q.S. Asy-Syuura (42):22 "mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki disisi Tuhan mereka, yang demikian itu adalah KARUNIA yang besar". Janganlah kita menulis yang bertentangan dengan ayat Al-Quran. Neraka bukan rumah sakit, dan orang-orang yang masuk neraka akan kekal (dimusnakan didalam neraka) karena mereka telah diberikan kesempatan memilih pada waktu masih hidup, tapi mereka tetap memilih yang jahat, sehingga tidak ada lagi kesempatan pertobatan setelah neraka. Dan surga adalah pemberian Allah bukan dari hasil amal kita. Amal adalah tanda terima kasih kita kepada Allah yang telah rela memikul beban kita, dan telah rela mati untuk menebus dosa kita. Keterangan ini sangat cocok dengan keterangan yang ada dalam Alkitab. Ini membuktikan isi ayat Alkitab dan isi ayat Al-Quran tidak berbeda (sama), karena kedua-duanya adalah wahyu dari Allah.

Benarkah ada ayat Al-Quran yang menyatakan kita harus istimewakan hari Saptu (hari ketujuh dalam minggu) seperti yang tertulis dalam Alkitab? Benar ada! ayat Al-Quran. Q.S. An-Nahl (16):123-124 dan ayat Alkitab Keluaran 20:8. Kita dianjurkan supaya selalu mengingat bahwa Allah adalah pencipta alam semesta. Memang kebanyakan dari kita menyatakan / mengira kita sudah mengingat Allah sebagai pencipta langit dan bumi. Tapi sayang kita mengingatnya dengan cara / kemauan kita sendiri-sendiri, tidak seperti dengan cara / kemauan yang Allah kehendaki. Keinginan / kemauan Allah adalah agar kita selalu mengingat Dia sebagai pencipta khususnya pada hari Sabtu. Bukankah lebih baik kita mengikuti cara kemauan Allah, dari pada kita mengikuti cara semau kita sendiri? Allah tentu akan lebih senang kalau kita mengikuti cara kemauanNya dari pada kita mengikuti cara mengingat menurut kemauan kita sendiri. Apa sebenarnya yang perlu manusia ingat (diperingati) pada saat manusia mengingat Allah? Jawabnya sangat jelas ada dalam ayat Al-Quran yaitu ingatlah bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi. Q.S. Ali-Imran (3):191 "ingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". Caranya Allah mencipta, hanya dengan bersabda: "Jadilah, lalu jadilah" = "Kun Faya Kun" Q.S. Al-Baqarah (2):117. Berapa lama waktunya Allah menciptakan langit dan bumi? Jawabnya, dalam enam masa. Q.S. Al-Araaf (7):54a "Sesungguhnya Tuhan kamu telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa". Setelah enam masa (enam hari) itu, apa yang Allah lakukan? Allah berhenti dan bersemayam diatas arasy (tahtaNya). Q.S.Al-Araat (7):54b "lalu Dia bersemayam diatas arasy (tahtaNya)". Jadi yang seharusnya diingat, dipikir dan direnungkan saat kita mengingat Allah, adalah mengingat bagaimana caranya Allah dan berapa lama Allah telah gunakan waktu untuk mencipta langit dan bumi lalu berhenti setelah masa keenam, yaitu pada masa ketujuh (hari ketujuh) Dia duduk diarasyNya menikmati akan ciptaanNya.

Mengapa untuk mengingat Allah kita harus mengingat bagaimana cara Allah menciptakan langit dan bumi? Itu adalah, karena kalau kita mengetahui akan cara Allah menciptakan alam semesta, kita akan sadar dan isyaf bahwa kita manusia ini tidak ada artinya dihadapan Sang Pencipta. Kita ini sangat kecil dibandingkan dengan Allah yang Maha Besar dan Maha Agung, sehigga akan menyebabkan penyerahan diri dan pasrah hanya kepada Sang Pencipta yaitu Allah satu-satunya dan tidak ada Allah yang lain lagi. Ayat-ayat Al-Quran diatas ini, sangat cocok (sama dengan) ayat-ayat Alkitab. Keluaran 20:8 "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat (Saptu)". Keluaran 20:11 "enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi dan segalah isinya dan Ia berhenti pada hari ketujuh, itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya". Kejadian 2:2-4 "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang telah dibuatNya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu. Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu itu diciptakan." Yeheskiel 20:12 "Hari-hari SabatKu , Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan (tanda) di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka". Ayat 20 "kuduskanlah hari-hari SabatKu, sehingga itu menjadi peringatan (tanda) diantara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN Allahmu". Jadi tanda bahwa kita adalah umat Allah adalah Sabat (Saptu). Janganlah kita (manusia yang hina ini) mencoba merobah "tanda umat Allah" yang Allah telah tentukan itu. Adakah contoh kebiasaan Nabi Isa (Yesus) yang ditinggalkannya bagi pengikutnya? Ada!. Kebiasaan Yesus itu, adalah selalu pergi ke sinago (rumah ibadat seperti mesjid) pada setiap hari Sabat/Saptu. Lukas 4:16 "menurut kebiasaanNya (Yesus), pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab". Pendirian (perilaku) Yesus tidak berubah dari dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya tetap menguduskan Sabat. Siapakah Yesus itu sebenarnya? Dia adalah Tuhan atas hari Sabat Markus 2:28. Dia adalah Tuhan atas hari Sabat, masak’ Dia setujuh merobah Sabat? Tentu tidak. Menguduskan Sabat (Sabtu) akan tetap dari dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya tidak berobah kepada hari yang lain (seperti yang telah dirobah kepada hari Minggu). Apakah disurga nanti, orang-orang (penduduk surga) akan memperingati hari Sabat (Saptu)? Ya, Yesaya 66:23 "Bulan berganti bulan dan Sabat beganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah dihadapanKu, firman TUHAN". Jadi nanti disurga Sabat (Saptu) yang dipakai bukan hari Minggu. Maka marilah kita menguduskan Sabat (Saptu). Khususnya kepada umat Kristiani, marilah kembali kepada peraturan Sabat sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab. Alangkah baiknya kita mengikuti cara kemauan Allah dari pada mengikuti cara teradisi Minggu yang dibuat oleh manusia. Jangan sampai peristiwa Matius 7 menimpah kita. Merasa telah ber Tuhan tapi akhirnya masuk neraka. Matius 7:21 "Bukan setiap orang yang berseruh Tuhan, Tuhan akan masuk kedalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang disorga". Jadi marilah kita melakukan kehendak Allah, bukan melakukan kehendak kita, agar kita diterima oleh Allah yang disorga.

Adakah berkat khusus bagi mereka yang menghormati hari Sabat (Saptu)? Ada. Yesaya 58:13-14 "Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu; apabila engkau menyebut hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus Tuhan "hari yang mulia", apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong-kosong, maka engkau akan bersenag-senang karena TUHAN dan aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya".

Ayat-ayat Al-Quran sangat tegas dan jelas menyatakan tentang hari Sabat. An-Nahl (16):123 "Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ikutilah agama Ibrahim" ayat 124 "sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu". Pada catatan kaki No.844 dalam buku Al-Quran tertulis "Menghormati hari Sabtu itu ialah dengan jalan memperbanyak ibadat dan amal-amal yang saleh serta meninggalkan pekerjaan sehari-hari". Apakah dalam Al-Quran ada amaran bagi yang melanggar aturan hari Sabtu? Ada. Q.S. An-Nisaa (4):154 bagian terakhir "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu". Apakah ada ganjaran (hukuman) bagi mereka yang melanggar peraturan hari Sabat? Ada. Q.S. Al-Baqarah (2):65 "Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfiman kepada mereka "Jadilah kamu kera yang hina". Q.S. An-Nisaa (4):47 "Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang yang berbuat ma’siat pada hari Sabtu".

Ada yang mengatakan benar keterangan tersebut ada terdapat dalam Al-Quran, tapi itu adalah untuk umat Israel (orang Yahudi) bukan untuk kita sekarang ini. Bukankah perintah Allah itu tetap dan tidak berobah-robah? (Q.S. Al-Fath (48):23, Q.S.Al-Baqarah (2):181). Bukankah kita disuruh ikuti agama Ibrahim? Agama nabi Ibrahim menuruti peraturan hari Saptu. (Q.S. An-Nahl (16):123-124). Tentu kita harus mengikutinya bukan! Dan untuk menjawab kepada mereka yang mengatakan "peraturan itu adalah untuk orang Israel saja" baiklah dia membaca terus Al-Quran, bukan hanya ayat 65 saja, tapi teruskan dengan membaca ayat 66 dari buku Al-Baqarah (2) tersebut, yang tertulis: "Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang–orang yang bertakwa". Sangat jelas peraturan hari Saptu ini adalah bagi orang-orang dulu dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian (yaitu kita sekarang ini) dan bagi orang-orang yang bertakwa. Jadi kalau anda mau dianggap bertakwa sekarang ini, turutilah peraturan Sabat (Saptu) seperti nabi Ibrahim! demikianlah firman Allah. Agar supaya kita benar-benar bertakwa dan dipandang beragama oleh Allah swt, kita harus menuruti semua perintah Allah. Q.S.Al-Maidah (5):68 "kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Quran".

Apa ada ayat Al-Quran yang menerangkan tentang babtisan (celupan)? Ada. Ayat Al-Quran ini sekaligus menjelaskan bahwa ada banyak cara babtisan tapi babtisan (celupan) Allah yang lebih baik. Q.S. Al-Baqarah (2):138 "Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepadanyalah kami menyembah". Pada catatan kaki No.91 dalam buku Al-Quran untuk keterangan tentang kata "shibghah" tertulis: "Shibghah artinya celupan Shibghah Allah; celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan". Sudahkah anda menerima / melaksanakan shibghah Allah?

Setelah terjawab pertanyaan-pertanyaan yang meragukan isi Alkitab, dan ayat-ayat Al-Quran yang nampaknya bertentangan itu, alangkah baiknya kita menyelidiki akan asal usul dan caranya Allah menurunkan firmanNya itu. Untuk mendapatkan hasil penyelidikan yang benar dan tepat kita harus jujur dalam standart test (patokan pengujian). Bandingkanlah asli dengan asli jangan bandingan asli dengan terjemahan. Dan yang terpenting harus terbuka apa adanya. Jangan menutup-nutupi yang perlu diketahui. Jangan berat sebelah, dengan maksud untuk memenangkan pihak tertentu. Jujurlah dan berlaku adillah kepada kedua belah pihak.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam menyelidik dan menyelusuri asal usul dan cara Allah menurunkan firmanNya antara lain adalah:

Apakah benar Alkitab itu diturunkan langsung secara utuh (kata demi kata) dari Allah kepada nabi-nabiNya tanpa ada peranan apapun dari nabiNya? Jawabnya: tidak. Alkitab itu tidak diturunkan secara utuh (kata demi kata) dari Allah kepada nabi-nabiNya. Kecuali 10 Firman Allah yang ditulis oleh jari Allah sendiri yang diturunkan dibukit Sinai dan diterima lansung oleh nabi Musa, semua isi Alkitab itu ditulis berdasarkan ilham dari Allah yang diterima nabi, lalu dituliskan menurut kemampuan nabi itu menuliskannya dengan cara dia sendiri tapi dipimpin oleh Roh Allah agar yang ditulisnya itu, tidak lari dari apa yang telah diilhamkan Allah. Dengan kata lain namunpun tata bahasanya terserah kepada nabi tapi isinya adalah sama dengan yang diilhamkan Allah karena tulisan itu dipimpin oleh Roh Allah (II Timotius 3:16).

Apakah benar tulisan asli yang utuh dari nabi-nabi Alkitab itu sudah tidak ada? Jawabnya: Benar. Sampai sekarang ini belum ditemukan tulisan asli dari nabi-nabi itu secara utuh.

Kalau tidak ada tulisan asli dari nabi-nabi Alkitab itu, dari manakah asal usul tulisan Alkitab sekarang ini? Jawabnya: Yang jadi patokan asli dari isi Alkitab itu bukan hanya satu tulisan tapi ada beberapa buah, yang setelah dicocokkan satu dengan yang lain, semuanya itu sama dan tidak ada perbedaan. Maka diambillah kesimpulan bahwa itulah tulisan yang sama dengan aslinya. Sehingga semua terjemahan Alkitab haruslah berpatokan dan berdasarkan tulisan yang telah dicocokkan tersebut. Tulisan-tulisan yang sudah dicocokkan dan tidak terdapat perbedaan itu adalah: Tulisan Codex Sinaiticus yang sekarang disimpan di British Museum, Codex Alexandrinus juga disimpan di British Meseum, Codex Vaticanus yang disimpan di Vatican Library di Rome Itali. Masih ada lagi tulisan-tulisan kuno seperti ini, tapi cukup saja tiga ini yang kami kemukakan. Setelah dicocokkan tulisan-tulisan itu, tidak terdapat perbedaan, semuanya sama. Apa lagi setelah berkembangnya ilmu archiologi telah diketemukan banyak sekali batu bertulisan, papirus bertulisan, lempengan tanah liat bertulisan, seperti yang ditemukan didekat laut mati yang bertuliskan ayat-ayat kitab cuci. Batu-batu, Papirus-papirus dan Lempengan-lempengan tulisan dari tanah liat yang kebih kuno (lebih lama dari Codex) itu, setelah dicocokkan satu dengan yang lain, semuanya sama, tidak berbeda. Dengan terdapatnya persamaan dalam tulisan-tulisan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Allah yang Maha Kuasa sanggup menyimpan akan keaslian isi Alkitab meskipun sebenarnya tulisan asli dari nabi-nabi itu sudah tidak ada. Disini kita dapat membuktikan betapa besar campur tangan Allah kepada firmanNya agar firmanNya dapat diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi dengan kesamaan isi seperti aslinya.

Seperti yang telah diterangkan diatas, dari Codex-Codex tersebut, maka diterjemakanlah Alkitab itu kepada bermacam-macam bahasa dengan gaya bahasa sesuai dengan keputusan panitia penterjemah dari bahasa yang dimaksud. Berbicara tentang terjemahan, kita bersama kertahui ada bahasa yang perbendaharaan kata-nya sangat baik dan lengkap, menyebabkan terjemahannya tepat dengan bahasa aslinya. Tapi ada bahasa yang perbendaharaan bahasanya tidak lengkap sehingga menyebabkan kadang-kadang tidak terlalu tepat terjemahannya. Karena tidak ada kata yang benar-benar cocok dengan kata aslinya, sedangkan itu harus diterjemahkan, maka sipenterjemah menggunakan kata yang mirip (yang mendekati). Namanya terjemahan, tentu kalau ada keraguan pada kata terjemahan, kita harus kembali kepada tulisan Codex tersebut sebagai patokan keasliannya. Kesalahan yang lain lagi yang mungkin dapat tejadi adalah pada percetakan, namanya percetakan, kadang terdapat salah ketik dan lolos dari prove reader dan tercetak. Tapi semuanya ini kita dapat pahami karena orang percetakan tentu tidak sempurna, jadi kalau terdapat salah cetak, lebih baik cocokkan dengan Codex yang ada tersimpan di Musium. Maka bereslah kesalah pahaman itu. Karena ada patokan (Codex) yang telah ditetapkan sebagai tempat rujukan.

Memperhatikan proses terjadinya terjemahan-terjemahan Alkitab itu, secara akal sehat tentu ada kemungkinan kesalahan yang tersusup, tanpa sengaja ataupun disengaja oleh orang-orang yang mengerjakannya. Memang benar bisa saja itu terjadi. Tapi selain akal sehat kita perlu pakai dasar kepercayaan yang kita bersama percayai bahwa Allah yang Maha Kuasa, yang Maha Bijaksanasa dan yang Maha Bisa (maha sanggup), tentu sanggup memimpin dan turut campur tangan dalam melestarikan firmanNya. Tidak mungkin Allah membiarkan firmanNya itu hilang ataupun dirobah oleh manusia. Firman Allah itu (Taurat, Injil dan Al-Quran) akan kekal dan tidak dirobah untuk selama-lamanya. (Q.S. Al-Fath (48):23, "Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu", Matius 24:35."Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home