Perkembangan Mushaf Usman
Mushaf Usman ditulis dalam bahasa Arab yang masih sangat sederhana, dimana :
1. Tidak ada tanda baca
2. Tidak ada indikasi huruf hidup
3. Tidak ada pembeda konsonan yang bersimbol sama
Jadi seluruh kata-kata ditulis dengan huruf mati (konsonan). Bahkan sering satu simbol bisa diartikan beberapa konsonan. Cara penulisan seperti ini jelas SANGAT SULIT UNTUK DIARTIKAN, baik bagi pemeluk Islam lama, maupun oleh pemeluk-pemeluk agama Islam yang baru yang mungkin tidak pernah mendengar nabi Muhammad atau sahabat dekatnya melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Perhatikan kutipan berikut :
Pertama :
Ulum Al-Qur’an
Ahmad von Denver
Halaman 57
"The script used in the seventh century, i.e. during the lifetime of the Prophet Muhammad, consisted of very basic symbols, which expressed only the consonantal structure of a word, and even that with much ambiguity. While today letters such as ba, ta, tha, ya, are easily distinguished by points, this was not so in the early days..." (Ulum, p.57)
Tulisan yang digunakan di abad ke 7, yaitu pada masa hidup rasulullah, hanya terdiri dari simbol-simbol huruf utama saja, yang hanya mengekspresikan HURUF MATI saja, bahkan dengan ambiguiti (tambahan brw : satu simbol dapat dibaca sebagai konsonan yang berbeda-beda). Sementara tulisan sekarang seperti ba, ta, tha, ya dengan mudah dapat dibedakan dengan titik-titik, sesuatu yang tidak ada dimasa-masa awal ……..
Kedua :
Orthographical Peculiarities in the Text of the Qur’an
M. Hamidullah,
Islamic Order, Vol. 3, no. 4, 1981, halaman 73
"When the Meccans, probably the first in Arabic, introduced a script for their language, importing it from Hira, as the tradition goes, on the eve of Islam, this script was crude and extremely defective. So much so that 22 out of 28 letters of the alphabet were always uncertain. To wit, if b, t, th, n, y, (i m q ã í) were written exactly alike - since there were no dots on them which now distinguish them -- so were j, h, and kh (u y ?), d and dh (sic) (Arabic letters), r and z (Arabic letters), s and sh …..
Ketika penduduk Mekah, mungkin yang pertama di Arab, memperkenalkan tulisan dalam bahasa mereka yang diadopsi dari Hira, huruf-huruf masih sangat sederhana dan tidak sempurna. Sehingga 22 huruf dari 28 huruf selalu tidak dapat dipastikan dalam penggunaannya. Jadi b, t, th, n, y (i m q ã í) ditulis dengan cara yang sama – karena tidak ada titik-titik pembedanya seperti yang dikenal sekarang – begitu juga j, h, dan kh (u, y), d dan dh, r dan z, s dan sh ………
Further, Arabic script has got the longer vowels (aa, ee, oo), but not the shorter vowels (a, i, u) in the alphabet. The result is that a trilateral word could be pronounced in as many as 69 different ways; for instance, they wrote BDR (Arabic), and pronounced badr, bidr, budr, badar, bidar, budar, badran, badrin, badrun, etc.
Lebih lanjut, tulisan Arab memiliki vokal panjang (aa, ee, oo) namun tidak vokal pendek (a, i, u) dalam huruf-hurufnya. Hasilnya adalah jika ada 3 HURUF dapat diucapkan dalam 69 CARA YANG BERBEDA. Sebagai contoh ,rangkaian huruf BDR, dapat dibaca badr, bidr, budr, badar, bidar, budar, badran, badrin, badrun dan seterusnya.
What is terrible in all this is that in the last three possibilities, badran meant "to a full moon", badrin "with a full moon", and badrun "a full moon has..."
Yang kacau adalah tentang 3 kemungkinan pembacaan terakhir, badran berarti “PADA TERANG BULAN”, badrin berarti “DENGAN TERANG BULAN”, dan badrun berarti “TERANG BULAN MEMILIKI …..”
How can, for instance, "God has said," "one said to God" and "one asked the help of God" be alike, yet in the Arabic script, when the final vowel is not marked (allahu, allaha, allahi), it is impossible to say whether the word "Allah" is in nominative case or accusative or else.
Bagaimana bisa, sebagai contoh : “ALLAH TELAH BERKATA”, “SESEORANG BERKATA KEPADA ALLAH” dan “SESEORANG MEMINTA PERLINDUNGAN ALLAH” memiliki tulisan yang sama. Dalam tulisan Arab, ketika huruf hidup terakhir tidak diberi tanda (allahu, allaha, allahi), menjadi tidak mungkin untuk mengetahui apakah Allah adalah PIHAK PERTAMA atau PIHAK PENDERITA atau lainnya.
The early Arabs guessed and deciphred (sic.) as best they could ……
This was on the eve of Islam. When Islam came things had to change for the better, yet only gradually."
Orang-orang Arab awal (saat membaca tulisan harus) MENDUGA dan MENGARTIKAN SUSAH PAYAH sebaik yang mereka mampu
Kesulitan inilah yang menyebabkan bahkan setelah Usman menstandarisasi KONSONAN Al-Qur’an MASIH terjadi PERBEDAAN CARA MEMBACA AL-qur’an.
Akhirnya penguasa politik Islam pasca Usman harus mengambil keputusan untuk melakukan proses standarisasi lebih lanjut terhadap mushaf KONSONAN Usman .
Sumber-sumber Islam menyebutkan langkah-langkah penyempurnaan tersebut secara garis besar sebagai berikut :
Disarikan dari buku :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, 2001, bab 8
a) Penyempurnaan Pertama
Pada saat khalifah Muawiyah (661 M – 680 M) memerintah dilakukan penyempurnaan pertama dengan memberikan TANDA BACA. Ide ini disampaikan oleh Ziyad ibn Samiyah (w. 673 M) yang saat itu menjabat sebagai gubernur Basrah di Irak kepada Abu al-Aswad al-Duali (605 M – 688 M). Sekalipun pada awalnya al-Duali menolak karena takut dianggap akan mencemarkan Al-Qur’an, akhirnya bersedia melakukannya setelah mendengar sendiri KEKELIRUAN PEMBACAAN QS 9 : 3. Al-Duali bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan memberikan TANDA-TANDA HURUF HIDUP (a, i, u, e dan o).
Penyempurnaan kedua dilakukan dengan memberikan tanda PEMBEDA HURUF MATI (KONSONAN) untuk membedakan huruf-huruf mati yang memiliki symbol sama. Perbaikan ini dilaksanakan pada jaman khalifan Abd al-Malik ibn Marwan (685 M – 705 M). Pemrakarsanya adalah Gubernur Irak al Hajjaj ibn Yusuf (w 714 M) setelah melihat MASIH ADANYA KESALAHAN PEMBACAAN Al-Qur’an. Al Hajjaj kemudian menugaskan Nashr ibn Ashim dan Yahya ibn Yamur yang adalah murid al-Duali. Selain itu al Hajjaj juga melakukan STANDARISASI BACAAN DAN PEMUSNAHAN LEBIH LANJUT terhadap mushaf non Usmani yang masih tersisa.
c) Penyempurnaan Ketiga
Pada saat khalifah Abbasiyah, dilakukan penyempurnaan berikutnya dengan menyempurnakan TANDA-TANDA VOKAL yang telah dihasilkan oleh Al-Duali. Tugas ini diemban oleh Khalil ibn Ahmad (718 M – 786 M) dan dilaksanakan di Basrah (Irak).
d) Tambahan brw : Namun dalam penambahan titik diakritis (pembeda konsonan) dan vocal itu muncul lagi beragam variasi dimana hampir disetiap provinsi Islam menghasilkan teks yang berbeda-beda.
Dikutip dari Luthfi A dari Islamlib :
Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H (944 M), Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni :
1. Nafi (Madinah)
2. Ibn Kathir (Mekah)
3. Ibn Amir (Syam)
4. Abu Amr (Bashrah)
5. Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).
Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”
Brw : Perhatikan bahwa di satu kota ternyata bisa muncul beberapa versi Al-Qur’an yang ada perberbedaan konsonan dan vokalnya..
• Kufa
Selain 3 versi kiraah diatas, ternyata masih ada lagi yaitu kiraah Khalaf ibn Hisyam al Bazzar. Jadi di Kufa ada 4 versi Al-Qur’an yang ada perberbedaan konsonan dan vokalnya.
• Madinah,
Selain kiraah Nafi ada lagi kiraah versi Abu Jafar al Makhzumi al Madani. Jadi di Madinah ada 2 versi Al-Qur’an yang ada perberbedaan konsonan dan vokalnya.
• Mekkah
Selain kiraah Ibn Kathir, ada lagi kiraah Muhammad ibn Abd al Rahman al Makki. Jadi di Mekkah ada 2 versi Al-Qur’an yang ada perberbedaan konsonan dan vokalnya.
• Basrah
Selain kiraah Abu Amr, ada lagi kiraah Yaqub al Hadlrami, kiraah Abu Muhammad Yahya ibn al Mubarak dan kiraah Abu Said al Hasan ibn Yasar. Jadi di Basrah ada 4 versi Al-Qur’an yang ada perberbedaan konsonan dan vokalnya.
Padahal diklaim bahwa Al-Qur’an telah dihafalkan oleh ribuan orang dengan sangat SEMPURNA. Kalau begitu bagaimana mungkin bisa muncul berbagai versi pembacaan al-Qur’an tersebut.?
e) Kecenderungan standarisasi semakin mengkristal sejak ditemukannya mesin cetak pada abad ke 15. Dari kiraah tujuh, hanya 2 yang yang dicetak dan digunakan secara luas, yaitu versi an Ashim dan versi an Nafi.
f) Pencetakan Al-Qur’an versi standard Mesir tahun 1923 mendasarkan pada versi an Ashim telah menjadikannya semacam supremasi kanon Al-Qur’an. Versi inilah yang sekarang dugunakan secara sangat luas oleh masyarakat Islam.
Versi Mesir 1923 inilah yang kemudian diklaim TIDAK PERNAH ADA KESALAHANnya dan SESUAI DENGAN APA YANG DIAJARKAN OLEH NABI.
Jadi dari MUSHAF KONSONAN Usman kemudian berkembang menjadi sekian banyak versi Al-Qur’an karena perbedaan saat menentukan KONSONAN dan PENAMBAHAN VOKALnya.
Jadi berapa jumlah versi Al-Qur’an yang pernah ada??
Hanya Allah yang tahu, namun menurut :
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447
Merenungkan Sejarah Alquran
……..
EDISI MESIR ADALAH SALAH SATU DARI RATUSAN VERSI BACAAN AL-QUR’AN (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.
……….
Luthfi Assyaukanie. Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Editor Jaringan Islam Liberal.
Dari uraian diatas terlihat bahwa cukup banyak proses yang dilalui oleh Al-Qur’an untuk sampai pada bentuk standard yang diterima sekarang ini.
Semua kesulitan yang muncul karena :
1. nabi Muhammad sendiri selaku otoritas tertinggi Al-Qur’an tidak pernah menstandarisasi Al-Qur’an dan tidak membukukannya.
2. kesulitan dalam penggunaan aksara Arab yang masih dalam taraf perkembangannya dimana tidak ada tanda baca, tidak ada huruf hidup dan banyak huruf mati yang memiliki simbol yang sama.
3. Variasi cara membaca yang sangat luas, dari 3 rangkaian konsonan dapat dibaca dengan 69 cara yang berbeda.
Secara kritis hal ini menimbulkan pertanyaan.
Apakah tidak pernah ada kesalahan dalam standarisasi Al-Qur’an tersebut.?
Namun bagaimanapun umat Islam tetap mempercayai kesahihan teks Al-Qur’an dengan alasan karena Allah SWT sendiri yang telah menjaganya sehingga tidak mungkin ada kesalahan sekecil apapun.
Salam

0 Comments:
Post a Comment
<< Home