PENGUMPULAN AL-QUR’AN MENURUT SUMBER KRISTEN
Selama ini dunia muslim hanya disuguhkan satu versi mayoritas pengumpulan Al-Qur’an melalui hadis sahih Bukhari.
Versi Bukhari (816 M – 870 M) tertulis dalam 2 hadis, dimana hadis pertama menempatkan pengumpulan awal oleh khalifah Abu Bakar (Volume 006, buku 061, Hadis nomor 509) dan pengumpulan dan penulisan ulang kedua oleh khalifah Usman (Volume 006, buku 061, hadis nomor 510.)
Sangat menarik karena sebetulnya dari sumber Kristen ternyata telah lebih dahulu menuliskan pengumpulan Al-qur’an dengan variasi yang sedikit berbeda. Sang penulis adalah AL-KINDI.
Kehidupan Al-Kindi.
Sumber :
Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam
DR. Th van den End dan DR. Christiaan de Jonge
UPI STT, 2003, halaman 58
Mengenai pribadi dan kehidupan Al-Kindi kita tidak tahu banyak. Sangat mungkin ia adalah seorang Nestorian …. Ia hidup sekitar tahun 800. Dengan Al-Hasyimi, seorang teman berbangsa Arab dan beragama Islam, Al-Kindi mengadakan surat menyurat mengenai persoalan agama …
Dalam bukunya The Apology of Al-Kindi yang ditulis tahun 830 M, pertama kalinya dituliskan tentang pengumpulan al-Qur’an oleh Usman dan Zaid bin Tsabit.
Bahkan lebih jauh lagi Al-Kindi menuliskan tentang penyusunan kemudian oleh Al-Hajjaj.
Kutipan-kutipan diambil dari sumber berikut ini :
THE APOLOGY OF AL KINDY
WRITTEN AT THE COURT OF AL MÂMÛN
(Circa A.H. 215; A.D. 830),
Terjemahan oleh William Muir, 1887
Bab : The Coran, Materials and Mode of Collection
Disebutkan bahwa Muhammad SAW meninggalkan satu copy Al-Qur’an dalam tangan Ali.
Sumber :
Ibid, halaman 71
But the Jews had already succeeded in tampering with the text of the Coran which Mahomet had left in Aly's hands,
Namun orang-orang Yahudi telah berhasil mendistorsi teks Al-Qur’an yang oleh Muhammad telah diberikan kepada Ali.
Kisah serupa dimana Muhammad SAW meninggalkan teks Al-Qur’an kepada Ali terekam dalam sumber berikut.
Az-Sanjani, Tarikh, p 66
Diriwayatkan bahwa nabi SAW pernah berkata kepada Ali : “Hai Ali, al-Qur’an ada dibelakang tempat tidurku, (tertulis) di atas suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan kumpulkanlah. ……… Ali menuju ketempat itu dan membungkus bahan-bahan tersebut dengan kain berwarna kuning
Al-Kindi tidak mencatat adanya kisah tentang penyusunan awal oleh Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit. Dalam kitab sahihnya Volume 006, buku 061, Hadis nomor 509, Bukhari memang menambahkan satu kisah pengumpulan yang dilakukan oleh Abu Bakar yang merasa khawatir tentang hilangnya Al-Qur’an akibat meninggalnya banyak muslim dalam pertempuran Yamama. Namun sangat mungkin kisah ini adalah kisah palsu yang ditambahkan untuk memberikan legitimasi mushaf Usman yang seolah-olah telah disusun hanya sekitar 2 tahun setelah meninggalnya Muhammad SAW.
Keabsahan cerita-cerita pengumpulan oleh Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit memang sangat meragukan. Cerita tentang keterlibatan mereka dalam pengumpulan Qur’an tidak pernah muncul dalam tulisan sebelum sekitar tahun 850 an M (sekitar 220 tahun setelah nabi SAW meninggal). Sebagai contoh :
• Cerita keterlibatan Abu Bakar, Umar dan Zaid tidak ada dalam kitab Tabaqat karya Ibn Sa’d (meninggal 845 M) dalam bagian yang membahas tentang Abu Bakar, Umar dan Zaid. Mustahil jika Ibn Sa’d tidak menuliskan keterlibatan mereka dalam pengumpulan jika hal itu memang terjadi.
• Cerita keterlibatan Abu Bakar, Umar dan Zaid juga tidak muncul dalam Musnad Ahmad bin Hanbal (meniggal 855 M) yang telah mengumpulkan begitu banyak laporan tentang jasa-jasa para sahabat nabi.
Laporan Al-Kindi langsung menyebutkan tentang munculnya perbedaan bacaan antara komunitas muslim dalam era Usman.
Sumber :
Ibid, halaman 73
"Then the people fell to variance in their reading. Some read according to the version of Aly ………... A party read according to the text of Ibn Masûd, following the saying of thy Master,—'Whosoever would read the Coran in its pristine purity and freshness, let him read after Ibn Omm Mabad'; and he used to repeat it over to him (Mahomet) once every year, and in the year he died, twice. And, yet again, some read after Obey ibn Kab, following thy Master's word,—'The best reader amongst you all is Obey.
Kemudian orang-orang mulai berbeda dalam pembacaan mereka. Beberapa mengikuti versi Ali ….. Satu golongan mengikuti text dari ibn Masud, mengikuti apa yang dikatakan Rasulullah – ……… Dan bahkan beberapa membaca mengikuti Ubay bin Kaab ……..
Kisah ini mirip dengan laporan Bukhari Volume 006, buku 061, hadis nomor 510 yang menyebutkan tentang perbedaan bacaan antara pasukan dari Syam dan dari Irak.
Disebutkan Usman kemudian menuliskan ulang Al-qur’an melalui Zaid bin Tsabit dan menolak Al-Qur’an versi Ali. Ibn Mas’udpun dilaporkan menolak menyerahkan mushafnya untuk dimusnahkan dan akibatnya dia dicopot dari jabatannya.
Sumber :
Ibid, halaman 74.
When this was represented to Othmân, and the danger urged of division, strife, and apostacy, he thereupon caused to be collected together all the leaves and scraps that he was able, together with the copy that was written out at the first. But they did not interfere with that which was in the hands of Aly, or of those who followed his reading. Obey was dead by this time. As for Ibn Masûd, they demanded his exemplar, but he refused to give it up, and so Abu Mûsa was appointed governor of Kufa in his room.2 Then they commanded Zeid ibn Thâbit, and with him Abdallah ibn Abbâs (others say Mohammed, son of Abu Bekr), to revise and correct the text, eliminating all that was corrupt
Ketika hal ini disampaikan kepada Usman, dan bahaya tentang perbedaan itu, konflik dan kekafiran, dia kemudian memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an dari daunan dan bahan apapun yang dapat dikumpulkan, bersamaan dengan copy yang ditulis pertama kali. Tetapi mereka tidak menggunakan mushaf yang ada ditangan Ali, dan mereka yang mengikuti bacaan Ali. Ubay telah meninggal saat itu. Sementara tentang Ibn Masud, mereka meminta mushafnya, namun dia menolak menyerahkannya, sehingga Abu Musa kemudian dikirim sebagai gubernur Kufa menggantikannya. Kemudian mereka memerintahkan Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas (yang lain menyebutkan Muhamamd, anak Abu Bakr) untuk merevisi dan mengkoreksi text, membuang semua yang salah.
Kemudian dibuatlah 4 copy, namun 3 diantaranya musnah. Ditulis juga upaya Usman memusnahkan semua mushaf lainnya.
Sumber :
Ibid, halaman 74 - 75
When the recension was completed, four exemplars were written out in large text, and one sent to Mecca, and another to Medina. The third was despatched to Syria, and is to this day at Malatia (Melitene). The copy at Mecca remained there till the city was stormed by Abu Sarâya (that is, the last time the Kaaba was sacked, A.H. 200); he did not carry it away ; but it is supposed to have been burned in the conflagration. The Medina exemplar was lost in the reign of terror, that is, in the days of Yezîd ibn Muâvia. The fourth exemplar was deposited in Kûfa, then the centre of Islam and home of the Companions of the Prophet. People say that this copy is still extant there; but this is not the case, for it was lost in the insurrection of Mukhtâr. "After what we have related above, Othmân called in all the former leaves and copies, and destroyed them, threatening those who held any portion back ….
Ketika penulisan selesai, 4 eksemplar ditulis dengan teks yang besar dan satu dikirim ke Mekah dan satu ke Medinah. Yang ketiga dikirim ke Syria dan sekarang berada di Malatia. Copy yang diMekah tetap berada disana hingga kota diserbu oleh Abu Saraya, dia tidak membawanya namun tampaknya telah terbakar dalam kekacauan. Mushaf di Medina hilang saat periode kekacauan, yaitu pada saat Yazid ibn Muawiya. Mushaf ke empat dikirim ke Kufa yang kemudian menjadi pusat Islam dan tempat tinggal sahabat-sahabat Rasulullah. Masyarakat menyatakan bahwa mushaf itu masih disana, namun sesungguhnya mushaf sudah hilang pada saat terjadi pemberontakan oleh Mukhtar.Kemudian Usman memerintahkan semua salinan yang lain dikumpulkan dan memusnahkannya, mengancam siapapun yang masih menyimpannya ….
Mushaf Al-Qur'an yang resmi ternyata bisa hilang begitu saja.
Kemudian dituliskan peranan al-Hajaj yang mengrang Al-Qur’an yang baru dan menuliskan 6 salinan untuk disebarkan, serta memusnahkan lagi untuk kedua kalinya salinan-salinan al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan oleh Usman.
Sumber :
Ibid, halaman 77
“Then followed the business of Hajjâj ibn Yûsuf, who gathered together every single copy he could lay hold of, and caused to be omitted from the text a great many passages. Amongst these, they say, were verses revealed concerning the House Omeyya with the names of certain, and concerning the House of Abbâs also with names. Six copies of the text thus revised were distributed to Egypt, Syria, Medina, Mecca, Kufa, and Bussora. After that he called in and destroyed all the preceding copies, even as Othmân had done before him.
Kemudian muncul persoalan Hajaj ibn Yusuf, yang mengumpulkan semua mushaf yang dapat dia kumpulkan, dan menghilangkan banyak ayat-ayat darinya. ……… Enam teks (mushaf) yang telah direvisi didistribusikan ke Mesir, Syria, Medina, Mekah, Kufa dan Basrah. Setelah itu dia mengumpulkan dan memusnahkan semua mushaf yang masih ada, sama seperti yang telah dilakukan Usman.
Tulisan Al-Kindi ini diperkuat oleh tulisan dari Ibn Abu Dawud (817 M – 889 M) yang melaporkan adanya perubahan kemudian terhadap mushaf Usman yang dilakukan oleh Al Hajjaj Ibn Yusuf Al-Thakafi, yang hidup 660 – 714 M, seorang guru bahasa Arab di Taif. Dia kemudian bergabung dengan militer dan menjadi seorang yang sangat berpengaruh saat kekuasaan kalifah Abd al-Malik Ibn Marwan dan Al-Waleed Ibn Abd al-Malik.
Sumber “
Ulum Al-Qur’an,
Ahmad von Denffer,
The Islamic Foundation, 1994, halaman 56 :
“ACCORDING TO IBN ABI DAWUD ELEVEN CHANGES WERE MADE UNDER AL-HAJJAJ. THESE ARE AGAIN ACCORDING TO IBN ABI DAWUD, MISTAKES WHICH WERE MADE IN THE PREPARATION OF 'UTHMAN'S COPY."
"Menurut Ibn Abi Dawud sebelas perubahan dibuat oleh Al-Hajjaj. Perubahan-perubahan ini menurut Ibn Abi Dawud, kesalahan-kesalahan yang dibuat dalam persiapan pembuatan mushaf Usman
Laporan Al-Kindi juga menjelaskan bahwa salinan Usman telah musnah dan yang ada pada saat itu adalah salinan dari Hajjaj ibn Yusuf. Ini menjelaskan kenapa tidak ada mushaf asli Usman yang selamat sampai pada era modern sekarang ini.
Sumber-sumber berikut mengkonfirmasikan tidak adanya mushaf asli Usman.
Sumber :
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an
DR. Subhi as Shalih
Pustaka Firdaus, April 2001, hal 101
Dimanakah mushaf salinan Usman saat ini?. Sampai sekarang pertanyaan seperti itu belum dapat dijawab secara memadai. Dekorasi dan gambar-gambar yang memisahkan satu surah dari surah lain atau yang menandai setiap sepersepuluh juz menunjukkan bahwa mushaf pustaka kuno yang dewasa ini berada di didalam perpustakaan nasional di Kairo bukanlah mushaf salinan Usman mengingat bahwa salinan Usman tidak ada hal-hal semacam itu.
Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, Agustus 2001, halaman 205 – 206
Terdapat sebuah manuskrip al-Qur’an yang disimpan di masjid al Husain di Kairo. Mushaf ini dinisbatkan kepada Usman dan ditulis dengan tulisan Kufi kuno. Tetapi bisa dikemukakan bahwa naskah tersebut merupakan salinan dari mushaf Usman (Ahmad Adil Kamal, Ulum al-Qur’an, Kairo, 1974 hal. 56). Semisal dengannya adalah manuskrip yang tersimpan di Tashkent ………….
Sejumlah kesimpang siuran tentang mushaf-mushaf utsmani ini pada gilirannya mengantarkan sejumlah sarjana muslim pada keyakinan bahwa naskah-naskah tersebut telah hilang tanpa bekas. Manuskrip-manuskrip kuno yang ada dewasa ini hanya dipandang sebagai salinan sempurna dari mushaf-mushaf usmani. …….
Sejalan dengannya, penelitian-penelitian tentang naskah kuno al-Qur’an mengungkapkan bahwa manuskrip-manuskrip al-Qur’an tertua – baik dalam bentuk lengkap atau hanya sebagian saja – yang ada dewasa ini adalah berasal dari abad ke 2 H.
Sumber :
Studi Ulumul qur’an – Telaah Atas Mushaf Ustmani
Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, terj. Drs. Taufiqurrahman M.Ag.
Pustaka Setia, 2003, halaman 33
Penulis kitab Manahil al-Irfan berkata, “Kami tidak memiliki dalil atau petunjuk yang kuat mengenai keberadaan Mushaf Usmani sekarang, terutama dalil yang menunjukkan tempatnya……. Adapun peninggalan mushaf-mushaf yang tersimpan di khazanah-khazanah kitab dan museum-museum di Mesir yang menurut satu pendapat adalah mushaf Ustmani, kami sangat meragukan kebenarannya karena didalamnya terdapat lukisan-lukisan atau gambar-gambar yang diletakkan sebagai ciri yang membatasi antar surat-surat …… Padahal sebagaimana diketahui, mushaf Ustmani tidak memiliki semua itu, bahkan tidak memiliki titik dan syakal sekalipun.
KESIMPULAN
Dari uraian Al-Kindi diatas dapat dikatakan :
1. Sangat mungkin Muhammad SAW meninggalkan catatan-catatan kepada Ali, dan catatan-catatan ini ironisnya sudah dimusnahkan oleh Usman atau Hajjaj ibn Yusuf.
2. Tidak ada pengumpulan pertama oleh Abu Bakar, Umar dan Zaid. Ini diperkuat oleh absennya laporan keterlibatan mereka dalam buku Ibn Sad dan Ahmad bin Hanbal.
3. Mushaf Usman juga sudah musnah, yang ada adalah mushaf al-Hajjaj.
EPILOG.
Menarik untuk mengutip pendapat berikut.
Sumber :
Lubang Hitam Agama
Sumanto Al-Qurtuby
Penerbit RumahKata, 2005, halaman 36 – 37
Menyadari realitas sejarah yang demikian, umat Islam bukan melakukan kritik diri sebaliknya membela mati-matian otoritas dan supremasi teks Al-Qur’an seraya menggembar-gemborkan sebagai teks yang otentik, asli, original, made in Tuhan, bukan teks palsu, imitasi seperti Bibel, Injil dan lainnya. Ini adalah bagian dari lelucon yang tidak lucu dari umat Islam yang katanya umat terbaik itu
Memang inilah lelucon yang paling tidak lucu, kitab yang kacau balau susunannya dan sangat tidak komprehensif dinyatakan “made in Tuhan” dan klaim kosong itu dipercaya mati-matian.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home